Hari Santri Nasional, Ghofur – Firosya, Komitmen Santri untuk Transformasi Lamongan

Oleh Global Jatim • 22 Okt 2024, 18:43 WIB • 45 Views

GLOBALJATIM
LAMONGAN  –  Pada peringatan Hari Santri Nasional 2024, pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Lamongan nomor urut 01, Abdul Ghofur dan Firosya Shalati, menegaskan komitmen mereka untuk membawa perubahan signifikan di Kabupaten Lamongan.

Ghofur, berlatar belakang pendidikan agama dan alumni Yayasan Pesantren Islam (YAPI) Bangil, Pasuruan, bertekad menjadikan Lamongan lebih maju tanpa mengabaikan nilai-nilai religius dan budaya lokal.

Dalam visinya, Ghofur mengintegrasikan semangat religius dengan modernitas dalam upaya meningkatkan pendidikan, ekonomi, dan sosial di Lamongan. Ia menekankan pentingnya memulai perubahan dari hal-hal kecil dengan tetap berpegang pada prinsip agama.

“Kami ingin membangun Lamongan yang lebih baik dan lebih maju,” ujarnya.

Ghofur berencana untuk memperhatikan pondok pesantren di Lamongan dengan mengeluarkan Peraturan Bupati (Perbup) jika terpilih. Ia berkomitmen mengakomodasi program untuk santri, termasuk tunjangan bagi guru ngaji dan Madrasah Diniyah (Madin).

“Pemerintah perlu memperhatikan pesantren-pesantren di Lamongan,” tegasnya.

Momen Hari Santri Nasional kali ini, yang mengusung tema “Menyambung Juang, Merengkuh Masa Depan,” menjadi kesempatan bagi Ghofur untuk menegaskan pentingnya mendukung santri. Ia berencana mengadakan lomba membaca kitab kuning antar pesantren untuk membangkitkan semangat belajar santri.

Ghofur juga berbagi pengalaman hidupnya yang penuh tantangan, mulai dari nyantri di YAPI Bangil selama enam tahun hingga melanjutkan pendidikan di Pakistan. Ia menceritakan pengalamannya bekerja di musim haji sebagai bentuk perjuangan dan kerja keras.

Sementara itu, Cawabup Firosya Shalati menyambut baik gagasan Presiden dan Wakil Presiden RI Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka terkait pengembangan santri.

“Program santri mendunia dan dana abadi untuk pondok pesantren adalah langkah penting yang harus kami sinkronkan di Lamongan,” katanya.

Firosya percaya bahwa santri tidak hanya harus dipersiapkan secara akhlak dan pengetahuan agama, tetapi juga harus mampu bersaing di dunia industri.

Firosya, meskipun tidak menempuh pendidikan formal di pesantren, memiliki kedekatan dengan lingkungan santri sejak kecil. Ia berkomitmen untuk berkontribusi lebih bagi santri dan mengoptimalkan peran mereka di industri.

“Momentum Hari Santri harus dimanfaatkan untuk menguatkan peran santri,” ujarnya.

Dengan latar belakang yang kuat dalam komunitas santri, Ghofur dan Firosya berharap dapat menyemarakkan Hari Santri Nasional di Lamongan, di mana 90% penduduknya beragama Islam dan banyak pondok pesantren yang berperan penting dalam masyarakat. (Red)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.

Komentar (0)

You cannot copy content of this page

Back to top