Totok Tewel: Legenda Gitar Rock Indonesia yang Tetap Sederhana di Tengah Gempuran Digital

Oleh Global Jatim 25 Jul 2025, 01:07 WIB 897 Views

Oleh: [Wahyu]

 

GLOBALJATIM
Emmanuel Herry Hertoto, atau yang akrab disapa Totok Tewel, adalah nama yang tak terpisahkan dari sejarah musik rock Indonesia era 1980–1990-an. Lahir pada 1 Januari 1958 di Malang, Jawa Timur, pria yang pernah menjadi gitaris grup legendaris seperti Swami, Dalbo, Sirkus Barock, dan Kantata Takwa ini mengawali karier di dunia musik bersama grup Elpamas dan Golden Wing.

Tak hanya berkarya di band ternama, Totok juga menjadi gitaris pendukung untuk sejumlah artis seperti Mel Shandy, Ikang Fawzi, Anggun C. Sasmi, hingga Metal Boyz. Ia bahkan terlibat sebagai arranger musik untuk lagu “Perahu Retak” (Franky Sahilatua) dan karya-karya Hengky Supit. Prestasinya diakui melalui gelar “Gitaris Terbaik” di Festival Rock se-Indonesia versi Log Zhelebour tiga tahun berturut-turut (1984, 1985, 1986).

Ketika ditanya tentang potensi kebangkitan musik rock di Tanah Air, Totok Tewel mengaku tidak bisa memprediksi.

“Musik yang diremehkan malah bisa meledak, seperti lagu ‘Madu dan Racun’ milik Bill & Brod yang tiba-tiba booming. Tapi untuk rock, apakah bisa kembali seperti era 80–90-an? Itu kembali ke selera pasar,”ujarnya.

Data dari Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (ASIRI) menunjukkan bahwa saat ini, musik pop dan dangdut masih mendominasi pasar. Namun, geliat musik rock underground dan festival-festival independen seperti Java Rockin’Land dan Rock in Solo membuktikan bahwa penggemar rock tetap loyal, meski tak lagi menjadi arus utama.

Merespons isu royalti yang ramai diperbincangkan, Totok bersikap bijak. Menurutnya, selama cover lagu tidak digunakan untuk kepentingan komersial besar, hal itu tidak masalah. Namun, ia mengingatkan pentingnya proteksi hak cipta bagi musisi.

“Akan sangat rugi bila musisi muda tidak memanfaatkan kemajuan teknologi. Dengan AI, proses kreatif bisa lebih mudah, asalkan digunakan dengan bijak,”btandasnya.

Fakta dari Yayasan Karya Cipta Indonesia (YKCI) menunjukkan bahwa hanya 30% musisi Indonesia yang aktif mengurus royalti, sementara sisanya masih abai terhadap hak mereka. Padahal, di era digital, platform seperti Spotify dan Apple Music bisa menjadi sumber pendapatan pasif jika dikelola dengan baik.

Belakangan, isu riders—daftar permintaan artis sebelum manggung—menjadi sorotan. Totok justru mengejutkan dengan kesederhanaannya.

“Saya nggak neko-neko. Dijemput ojek online pun nggak masalah. Makanan? Yang penting ada nasi hangat,”ujarnya sambil tertawa.

Sikap ini kontras dengan tren musisi masa kini yang kerap meminta fasilitas mewah sebelum tampil. Totok membuktikan bahwa esensi bermusik bukanlah kemewahan, tapi keikhlasan berbagi karya.

Setelah puluhan tahun mengukir nama di dunia musik rock Indonesia, Totok Tewel akhirnya mewujudkan obsesinya, merilis album solo gitar instrumental bertajuk “Miberdhewen” (2018). Dalam bahasa Indonesia, judul ini berarti “Terbang Sendiri”—sebuah refleksi dari proses kreatifnya yang benar-benar independen.

Diproduksi oleh Pelampung Records, album ini menampilkan tujuh lagu yang sepenuhnya digarap sendiri oleh Totok, mulai dari komposisi, permainan gitar, bass, hingga drum. Uniknya, seluruh lagu sebenarnya telah diciptakan pada 2006–2007, tetapi baru mengalami mastering ulang dan dirilis pada 19 April 2018.

Meski dikenal sebagai gitaris rock legendaris, Miberdhewen tidak sekadar menampilkan kecepatan dan teknik melengking khas genre tersebut. Totok menyelipkan harmoni kompleks, sentuhan musik etnik Nusantara, bahkan nuansa klasik, membuktikan kedalaman musikalitasnya.

“Ini adalah eksperimen sekaligus kepuasan batin. Saya ingin musik berbicara sendiri, tanpa perlu lirik,” ujar Totok tentang karya yang digarapnya dengan kesabaran selama bertahun-tahun itu.

Kini, di usianya yang tak lagi muda, Totok Tewel tetap diingat sebagai salah satu pilar musik rock Indonesia. Pesannya jelas, “Musik harus terus berkembang, tapi jangan lupakan akar dan nilai seninya.”

Bagi penggemar musik instrumental atau mereka yang ingin menyelami sisi lain Totok Tewel di luar Swami dan Kantata Takwa, Miberdhewen layak didengarkan—sebagai sebuah perjalanan musikal yang personal sekaligus universal.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.

Komentar (0)

You cannot copy content of this page

Back to top