Program GAYATRI Bojonegoro Buktikan Hasil, Sukses Dongkrak Pendapatan Keluarga dari Telur

Oleh Global Jatim • 06 Okt 2025, 16:56 WIB • 108 Views

GLOBALJATIM
BOJONEGORO – Program Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri (GAYATRI) yang diinisiasi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro menunjukkan hasil menggembirakan. Sebanyak 70-90% dari 400 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di lima kecamatan telah menikmati hasil panen telur dengan tingkat kematian ternak yang rendah, hanya sekitar 2%.

Sekretaris Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Bojonegoro, Elfia Nuraini, menjelaskan, program yang tercatat dalam APBD induk ini telah menjangkau 400 KPM yang tersebar di 10 desa.

“Berdasarkan hasil sampling di Desa Turi, Kecamatan Tambakrejo, dan Desa Klino, Kecamatan Sekar, rata-rata keuntungan harian KPM mencapai Rp 22.500,” ujar Elfia, Senin (6/10/2025).

Perhitungan tersebut, lanjutnya, didasarkan pada asumsi peternak telah mandiri membeli pakan seharga Rp 7.500 per kg. Produksi telur harian mencapai 2,7–2,8 kg, dengan harga jual Rp 24.000–Rp 25.000 per kg.

“Secara keseluruhan, analisis usaha dalam kajian teknis menunjukkan keuntungan bulanan berkisar antara Rp 514.200 hingga Rp 739.200. Keuntungan ini diharapkan dapat secara signifikan menambah pendapatan keluarga rentan sehingga mereka bisa keluar dari data kemiskinan,” harap Elfia.

Meski demikian, hasil evaluasi dan pemantauan di seluruh lokasi program menemukan adanya penurunan produksi telur pada beberapa peternak. Hal ini disebabkan oleh kebiasaan peternak mencampur pakan dengan jagung menggunakan takaran seadanya, sehingga kualitas nutrisi tidak maksimal.

“Oleh karena itu, pendampingan intensif dari petugas diharapkan terus diberikan untuk memastikan kualitas pakan dan hasil produksi tetap optimal,” tegasnya.

Strategi Peningkatan Pendapatan

Untuk memaksimalkan pendapatan KPM, Disnakkan mendorong beberapa strategi. Pertama, self-mixing pakan secara berkelompok melalui koperasi atau BUMDes. Mengingat Bojonegoro merupakan penghasil jagung dan padi, langkah ini diharapkan dapat menekan biaya pakan yang menjadi komponen terbesar (minimal 70%) dari biaya operasional.

Kedua, pemanfaatan rempah-rempah yang dicampurkan ke pakan atau air minum untuk meningkatkan daya tahan penyakit dan mengurangi bau kotoran, sehingga mengurangi biaya operasional obat-obatan.

Ketiga, pemasaran mandiri dengan menjual telur langsung ke konsumen, warung, atau secara online untuk mendapatkan harga lebih tinggi. Selain itu, kotoran ayam dapat dimanfaatkan dan dijual sebagai pupuk dengan harga Rp 1.000–Rp 1.500 per kg.

Disnakkan juga menjalin sinergi dengan BUMD Pangan, BUMDes, atau asosiasi/koperasi ternak untuk mempermudah penjualan telur serta pembelian pakan dan bibit. Tak hanya itu, Pemkab Bojonegoro mengeluarkan surat edaran agar Aparatur Sipil Negara (ASN) membeli telur dari GAYATRI, dengan jargon “Bangga Beli Telur GAYATRI, Mergo Telur Kabeh Dadi Dulur.”

“Program GAYATRI akan diperluas secara signifikan melalui Perubahan APBD (P-APBD). Ini menandakan komitmen Pemkab Bojonegoro untuk terus memperluas jangkauan program pengentasan kemiskinan berbasis pemberdayaan ternak ini,” pungkas Elfia. (Red).

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.

Komentar (0)

You cannot copy content of this page

Back to top