SDN Ledokwetan Kembangkan Program SMART, Rita Yuana Raih Juara 1 Apresiasi GTK Jawa Timur 2026

Oleh Global Jatim • 06 Nov 2026, 15:17 WIB • 13 Views

GLOBALJATIM
BOJONEGORO – Penguatan karakter, pembiasaan nilai keagamaan, serta keterampilan menghadapi kehidupan sehari-hari juga menjadi bagian penting dalam proses pendidikan. Hal inilah yang terus dikembangkan SDN Ledokwetan, Kabupaten Bojonegoro, melalui sejumlah program inovatif.

Praktik baik dalam pengelolaan sekolah dan pengembangan pembelajaran itu turut mengantarkan Rita Yuana meraih Juara 1 Terbaik Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Provinsi Jawa Timur Tahun 2026 kategori Kepala TK, SD, dan SMP.

Salah satu program unggulannya adalah SMART (Sinergi Membangun Akademik dan Religi Ledokwetan). Program ini mengintegrasikan pendidikan agama ke dalam kegiatan sekolah melalui pembelajaran Madrasah Diniyah yang dilaksanakan setelah kegiatan akademik.

Kepala SDN Ledokwetan, Rita Yuana, menjelaskan bahwa gagasan tersebut berangkat dari kondisi sebagian besar orang tua murid yang bekerja sebagai pedagang maupun pegawai. Kesibukan tersebut membuat tidak semua orang tua memiliki waktu untuk mengantar anak mengikuti kegiatan mengaji di luar jam sekolah.

“Melalui program SMART, kami ingin memberikan kemudahan bagi orang tua sekaligus memastikan anak-anak tetap mendapatkan pendidikan agama. Jadi, orang tua cukup mengantar anak ke sekolah pada pagi hari. Saat dijemput siang hari, mereka sudah mendapatkan pembelajaran akademik sekaligus pendidikan religi,” jelas Rita.

Untuk mendukung pelaksanaannya, sekolah menghadirkan dua ustaz sebagai pembimbing kegiatan Madrasah Diniyah. Pembelajaran dibagi berdasarkan jenjang kelas, yakni kelas 1, 2, dan 3 mulai pukul 11.30 hingga 12.00 WIB, sedangkan kelas tinggi berlangsung pukul 12.00 hingga 13.30 WIB.

Melalui SMART, sekolah juga membangun kebiasaan positif sejak dini. Mulai dari kedisiplinan datang ke sekolah, salat duha, salat zuhur berjamaah, hingga pembelajaran fikih, akidah, baca tulis Al-Qur’an (BTQ), tajwid, tahfiz, dan kajian kitab. Pembiasaan membaca Asmaul Husna turut menjadi bagian dari kegiatan sehari-hari.

“Perkembangan anak-anak kami pantau melalui buku prestasi mengaji dan jurnal salat. Dari catatan tersebut, terlihat adanya peningkatan kemampuan mereka. Hasil survei kepada orang tua juga menunjukkan respons yang positif terhadap program ini,” ungkapnya.

Tidak berhenti pada pengembangan murid, Rita juga mendorong peningkatan kualitas pembelajaran melalui komunitas belajar guru. Wadah ini menjadi ruang bagi para pendidik untuk bertukar pengalaman, berdiskusi, dan mengembangkan metode pembelajaran yang lebih kreatif serta menyenangkan. Dalam prosesnya, kepala sekolah memberikan pendampingan melalui supervisi akademik dengan pendekatan sebagai mitra belajar bagi guru.

Sementara itu, untuk membangun kepedulian sosial dan lingkungan, sekolah mengembangkan projek kokurikuler berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics). Dalam projek tersebut, murid diajak mengolah limbah minyak dari pabrik tahu goreng di wilayah Ledok serta minyak jelantah rumah tangga menjadi produk sabun cuci tangan.

Proses pengolahan juga memanfaatkan bunga telang sebagai bahan tambahan yang mengandung antioksidan. Melalui kegiatan ini, murid tidak hanya belajar menghasilkan produk yang bermanfaat, tetapi juga dilatih mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi. Mereka sekaligus dikenalkan pada pentingnya mengelola limbah agar memiliki nilai guna.

“Kami ingin anak-anak tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga mampu melihat persoalan di lingkungan sekitar dan menemukan solusi. Melalui projek ini, mereka belajar berkolaborasi, berinovasi, serta memahami bahwa sesuatu yang dianggap limbah ternyata bisa diolah menjadi produk yang bermanfaat,” tutur Rita.

Bagi Rita, penghargaan tersebut bukan sekadar pencapaian individu, melainkan hasil dari proses belajar, kerja sama, serta komitmen seluruh warga sekolah dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

“Prestasi ini bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Saya percaya perubahan pendidikan tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi, kemauan untuk terus belajar, dan keberanian menghadirkan inovasi yang memberikan dampak bagi murid, guru, maupun masyarakat,” ungkapnya.

Ke depan, Rita ingin terus mengambil peran dalam menyiapkan generasi Bojonegoro yang memiliki kemampuan akademik, karakter, dan nilai keagamaan yang kuat.

“Harapannya, program-program ini dapat terus berkembang dan menginspirasi satuan pendidikan lainnya. Kami ingin ikut menyiapkan generasi Bojonegoro yang tangguh, unggul, serta memiliki keseimbangan antara kemampuan akademik dan religi untuk menghadapi masa depan,” pungkasnya. (MJ)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.

Komentar (0)

You cannot copy content of this page

Back to top