Momen Pak Yes Nikmati Suasana Literasi Klasik di Stand Balai Poestaka Arpusda

Oleh Globaljatim 25 Jun 2026, 13:59 WIB 80 Views

GLOBALJATIM

LAMONGAN – Perjuangan tidak hanya diwariskan melalui kisah kepahlawanan, tetapi juga melalui buku, sastra, bahasa, dan budaya yang menjadi jendela peradaban suatu bangsa. Semangat itulah yang dihadirkan Balai Poestaka Arpusda Kabupaten Lamongan dalam gelaran Lamongan Tempo Doeloe Perjuangan melalui stand bertema “Ayo Menyang Lamongan Tempoe Doeloe” di Lapangan Gadjah Mada Lamongan, Rabu (24/6/2026) malam.

Mengusung nuansa perpustakaan tempo dulu, stand bernomor 12 tersebut menghadirkan pengalaman yang membawa pengunjung kembali pada kehidupan masyarakat Lamongan di masa lampau. Mulai dari pitutur Jawa, dolanan bocah lawas, cosplay pahlawan, hingga aneka jajanan jadul dipadukan dalam satu ruang edukasi yang sarat nilai sejarah dan budaya.

Konsep tersebut menjadi salah satu daya tarik dalam rangkaian Hari Jadi Lamongan (HJL) ke-457 dan turut mendapat perhatian Bupati Lamongan Yuhronur Efendi (Pak Yes) saat berkeliling mengunjungi berbagai stand tematik yang mengangkat semangat perjuangan dari berbagai sisi kehidupan masyarakat.

Di sela kunjungannya, Pak Yes tampak menikmati suasana yang dihadirkan Balai Poestaka Arpusda sekaligus mengamati berbagai aktivitas literasi dan edukasi budaya yang melibatkan pengunjung dari berbagai kalangan. Kehadiran stand tersebut menjadi ruang interaksi yang mempertemukan sejarah, sastra, permainan tradisional, dan nilai-nilai kearifan lokal dalam satu konsep yang edukatif.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lamongan, Umuronah, S.ST., M.Kes., mengatakan bahwa tema yang diangkat bukan sekadar menghadirkan nostalgia, tetapi juga menjadi upaya menumbuhkan kembali minat masyarakat terhadap literasi, budaya, dan sejarah daerah.

“Kami ingin masyarakat, terutama anak-anak dan generasi muda, merasakan bahwa membaca, mengenal budaya, dan memahami sejarah dapat dikemas dengan cara yang menyenangkan. Karena literasi bukan hanya tentang buku, tetapi juga tentang memahami perjalanan sebuah daerah dan nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu,” ujarnya.

Menurut Umuronah, perpustakaan memiliki peran yang terus berkembang sebagai ruang belajar, ruang budaya, sekaligus ruang interaksi masyarakat. Karena itu, kehadiran Balai Poestaka Arpusda dalam Lamongan Tempo Doeloe Perjuangan menjadi bagian dari upaya mendekatkan literasi kepada masyarakat melalui pendekatan yang lebih kreatif dan membumi.

“Melalui pitutur Jawa, permainan tradisional, hingga cerita sejarah yang kami hadirkan, kami berharap masyarakat semakin mencintai budaya lokal dan menjadikan literasi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Partisipasi Balai Poestaka Arpusda dalam Lamongan Tempo Doeloe Perjuangan menunjukkan bahwa menjaga sejarah tidak hanya dilakukan dengan menyimpan arsip atau koleksi buku, tetapi juga dengan menghidupkan kembali nilai-nilai budaya yang pernah tumbuh di tengah masyarakat agar tetap dikenal oleh generasi berikutnya.

Di tengah derasnya perkembangan teknologi informasi, budaya membaca, menghargai sejarah, serta melestarikan kearifan lokal menjadi fondasi penting dalam membangun masyarakat yang berpengetahuan dan berkarakter. Karena itu, melalui Lamongan Tempo Doeloe Perjuangan, Balai Poestaka Arpusda mengajak masyarakat untuk tidak sekadar bernostalgia, tetapi juga merawat literasi sebagai bagian dari perjuangan membangun peradaban dan masa depan bangsa. (JN)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.

Komentar (0)

You cannot copy content of this page

Back to top