Kasus PMK di Lamongan Tak Kunjung Reda, Disnakeswan Kebut Upaya Kesembuhan

Oleh Global Jatim • 03 Feb 2025, 17:52 WIB • 95 Views

GLOBALJATIM
LAMONGAN – Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) masih menghantui peternak di Lamongan. Hingga 2 Februari 2025, jumlah sapi terinfeksi terus bertambah, mencapai 1.473 ekor. Dari jumlah itu, 811 ekor masih sakit, 86 ekor mati, dan 71 ekor harus dipotong bersyarat.

Meski angka kesembuhan meningkat menjadi 505 ekor, ancaman PMK belum sepenuhnya terkendali. Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Lamongan, Shofiah Nurhayati, mengakui bahwa kasus baru masih bermunculan setiap hari.

“Dulu tingkat kematian tinggi, sekarang banyak yang sembuh karena sudah pernah divaksin,” kata Shofiah, Senin (3/2/2025).

Pasar Hewan Jadi Biang Kerok?

Salah satu faktor utama penyebaran PMK diduga berasal dari aktivitas jual-beli di pasar hewan. Disnakeswan Lamongan telah menutup pasar sebagai langkah pencegahan, namun kebijakan ini dianggap kurang efektif jika tidak diterapkan serentak di seluruh Jawa Timur.

“Pasar hewan jadi sumber utama penularan. Kalau kita tutup, tapi kabupaten lain tetap buka, percuma. Harus ada kebijakan serentak di Jawa Timur,” tegasnya.

Gubernur Jawa Timur sendiri telah mengeluarkan Surat Keputusan Darurat PMK pada 23 Januari 2025. Namun, realisasi pengawasan dan pencegahan di lapangan masih menemui tantangan.

Dana Minim, Vaksinasi dan Pengobatan Terbatas

Disnakeswan Lamongan mengandalkan bantuan dari provinsi untuk pengobatan dan vaksinasi, mengingat Dana Alokasi Khusus (DAK) tidak mencakup pengobatan PMK.

“Saat ini kita masih mengandalkan bantuan dari provinsi. Ke depan, kita akan mengajukan tambahan vaksin dan obat-obatan,” ujarnya.

Seperti COVID-19, vaksin PMK harus diberikan secara berkala, minimal enam bulan sekali. Sapi yang sehat harus divaksin, sementara yang terinfeksi membutuhkan pengobatan intensif.

Selain PMK, ancaman lain mengintai peternak, yakni Lumpy Skin Disease (LSD), penyakit kulit menular pada sapi. Meskipun belum ada laporan kasus di Lamongan, vaksinasi pencegahan sudah mulai dilakukan.

Dengan upaya vaksinasi dan pengobatan yang terus digenjot, Disnakeswan berharap kasus PMK bisa ditekan hingga nol. Namun, tanpa kesadaran peternak dan kebijakan pencegahan yang lebih ketat, mimpi bebas PMK di Lamongan masih jauh dari kenyataan. (**)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.

Komentar (0)

You cannot copy content of this page

Back to top