Batik Conggah, Simbol Budaya yang Menjadi Motor Ekonomi Kreatif Desa Jatirenggo

Oleh Global Jatim • 26 Jun 2025, 18:20 WIB • 110 Views

GLOBALJATIM
LAMONGAN –  Batik Conggah bukan sekadar produk kerajinan tangan, melainkan cerminan identitas budaya Desa Jatirenggo, Kecamatan Glagah, Kabupaten Lamongan. Motif-motif khas yang diwariskan secara turun-temurun ini menjadi kekuatan budaya sekaligus peluang ekonomi yang kini tengah dikembangkan secara serius oleh pemerintah desa setempat.

“Batik Conggah adalah simbol identitas desa. Ini bukan hanya soal ekonomi, tapi juga jati diri budaya yang kami jaga dan kembangkan,” ujar Kepala Desa Jatirenggo, Try Deasy Kusumaning Ayu, saat ditemui Kamis (26/6/2025).

Sebagai bentuk komitmen, Pemerintah Desa (Pemdes) Jatirenggo meluncurkan sejumlah langkah strategis. Di antaranya, pembinaan kelompok perajin, pelatihan rutin dua kali seminggu, serta penguatan sarana produksi dan promosi. Kegiatan pelatihan tersebut tidak hanya menyasar kalangan perempuan, tetapi juga melibatkan generasi muda yang dibekali keterampilan digital seperti desain motif, pemasaran daring, hingga pengemasan produk.

“Kami ingin anak muda bukan hanya menjadi penerus, tapi juga inovator. Beberapa bahkan telah menciptakan motif-motif baru yang tetap berpijak pada akar budaya Conggah,” tambah Deasy.

Upaya pengembangan Batik Conggah juga dilakukan melalui promosi aktif, termasuk keikutsertaan dalam berbagai ajang seperti Pameran Kampung Kreasi tingkat Provinsi Jawa Timur. Selain itu, desa tengah mempersiapkan pendirian showroom batik di Balai Desa sebagai pusat promosi dan edukasi bagi pengunjung.

Untuk memperluas jangkauan pasar, Pemdes Jatirenggo fokus pada tiga strategi utama: branding, digitalisasi, dan kolaborasi lintas sektor. Salah satunya melalui sinergi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Lamongan.

“Kami sudah berdiskusi langsung dengan Kabid Pembinaan Industri, Pak Mohammad Anwar, untuk pelatihan lanjutan dan akses promosi yang lebih luas,” jelas Deasy.

Meski prospeknya menjanjikan, pengembangan Batik Conggah tidak lepas dari tantangan. Regenerasi perajin dan strategi pemasaran yang masih terbatas menjadi pekerjaan rumah yang terus diupayakan solusinya melalui pendekatan gotong royong.

“Kami sediakan alat, edukasi pemuda, dan buka pasar daring. Ini proses bertahap, tapi kami yakin hasilnya akan signifikan,” kata Deasy optimistis.

Langkah strategis lain yang tengah ditempuh adalah proses pendaftaran Batik Conggah sebagai kekayaan intelektual. Dokumentasi motif serta narasi budayanya sedang disusun sebagai bagian dari persyaratan untuk didaftarkan ke Kementerian Hukum dan HAM. Upaya ini bertujuan mengukuhkan Batik Conggah sebagai produk otentik khas Jatirenggo dan Lamongan.

Kehadiran Batik Conggah telah membawa dampak nyata bagi masyarakat, terutama bagi ibu rumah tangga. Tumbuhnya UMKM pendukung seperti penjahit dan reseller turut menggerakkan roda ekonomi lokal.

Lebih jauh, Deasy berharap Batik Conggah dapat menjadi ikon resmi desa dan mendorong transformasi Jatirenggo sebagai desa wisata batik.

“Kami ingin Batik Conggah bukan sekadar kerajinan, tapi warisan budaya dan ekonomi yang berkelanjutan. Semoga ini menjadi titik awal transformasi Jatirenggo sebagai pusat industri kreatif di Lamongan,” tutupnya. (**)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.

Komentar (0)

You cannot copy content of this page

Back to top