Menjaga Penyaring Tubuh: Tips Agar Ginjal Tetap Sehat Selama Puasa Ramadan

Oleh Global Jatim 24 Feb 2026, 17:57 WIB 153 Views

GLOBALJATIM
LAMONGAN – Selama belasan jam menahan haus di bulan Ramadan, organ tubuh kita bekerja ekstra keras di balik layar. Salah satu yang paling sibuk adalah ginjal. Ibarat mesin filtrasi, ginjal harus memutar otak agar tubuh tidak “kekeringan” meski asupan air berhenti total dari subuh hingga magrib.

Wadir Pelayanan dan Penunjang RSUD dr. Soegiri Lamongan, dr. Budi Himawan, Sp.U, mengibaratkan ginjal sebagai sistem filtrasi super canggih yang bekerja tanpa henti. Tak hanya menyaring darah dan membuang zat sisa, ginjal juga mengatur tekanan darah serta keseimbangan elektrolit.

Saat kita berpuasa, tubuh secara alami melakukan adaptasi luar biasa. Menurut dr. Budi, ketika asupan cairan terhenti, ginjal akan mengurangi produksi urine dan meningkatkan penyerapan kembali cairan melalui regulasi hormon.

“Ini adalah upaya alami agar tubuh tidak cepat mengalami dehidrasi,” ujar dr. Budi, Selasa (24/2/2026).

Namun, dr. Budi mengingatkan bahwa kemampuan adaptasi ini ada batasnya. Jika kebutuhan cairan saat berbuka dan sahur tidak terpenuhi, dampaknya bisa merembet ke mana-mana: tekanan darah turun, konsentrasi buyar, hingga beban kerja ginjal yang menjadi terlalu berat.

Pernahkah Anda memperhatikan warna urine yang lebih gelap di sore hari saat puasa? dr. Budi menyebut hal itu sebenarnya respons normal tubuh. Namun, ada batas merah yang tidak boleh diabaikan.

“Kondisi tersebut perlu diwaspadai jika urine menjadi sangat gelap seperti teh pekat, disertai nyeri pinggang, rasa perih saat berkemih, atau frekuensi buang air kecil yang sangat sedikit,” jelasnya.

Jika sinyal “stres” dari ginjal ini diabaikan terus-menerus selama sebulan penuh, risikonya tidak main-main. Mulai dari pembentukan batu ginjal, infeksi saluran kemih, hingga gangguan fungsi ginjal akut bagi mereka yang rentan.

Agar ibadah tetap lancar tanpa mengorbankan kesehatan, dr. Budi membagikan rumus hidrasi sederhana namun ampuh, yakni Pola 2-4-2:

• 2 Gelas saat berbuka puasa.
• 4 Gelas selama waktu malam (makan malam hingga sebelum tidur).
• 2 Gelas saat sahur.

Selain pola minum, dr. Budi memberikan catatan merah pada dua hal yang sering dianggap remeh: Kafein dan Obat Pereda Nyeri.

1. Batasi Kafein: Kopi atau teh berlebih bersifat diuretik yang justru merangsang tubuh membuang cairan lebih cepat. Bukannya terhidrasi, Anda malah berisiko kekurangan cairan lebih awal di siang hari.

2. Hati-hati Obat NSAID: Penggunaan obat pereda nyeri (golongan NSAID) secara sembarangan saat tubuh dalam kondisi dehidrasi sangat berbahaya. “Obat ini dapat menurunkan aliran darah ke ginjal dan berpotensi memicu gangguan fungsi ginjal akut,” tegas dr. Budi.

Menjalankan ibadah Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan juga menjaga amanah berupa tubuh yang sehat. Dengan pola hidrasi yang tepat, kita bisa menjaga “penyaring” tubuh tetap berfungsi optimal hingga hari kemenangan tiba.

“Ramadan adalah momentum spiritual, tetapi kesehatan tetap harus dijaga secara bijak,” pungkas dr. Budi, Wadir Pelayanan dan Penunjang RSUD dr. Soegiri Lamongan. (JN).

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.

Komentar (0)

You cannot copy content of this page

Back to top