Penyakit Jantung Mulai Ancam Usia Produktif, RSUD dr. Soegiri Targetkan Cathlab Beroperasi Akhir 2027

Oleh Globaljatim • 03 Nov 2026, 15:17 WIB • 37 Views

GLOBALJATIM

LAMONGAN – Ancaman penyakit jantung semakin meluas dan tidak lagi hanya menghantui kelompok lanjut usia. Kelompok usia produktif, khususnya rentang 25–45 tahun, kini turut menghadapi risiko penyakit kardiovaskular yang dapat berkembang tanpa disadari hingga berujung pada kondisi serius.

Fenomena tersebut menjadi perhatian RSUD dr. Soegiri Lamongan. Meski kelompok lanjut usia masih mendominasi kategori berisiko tinggi, terutama pasien dengan lebih dari satu penyakit penyerta atau komorbid, munculnya kasus pada usia produktif menunjukkan bahwa ancaman penyakit jantung tidak lagi bisa dipandang sebagai persoalan kesehatan pada usia senja.

Direktur RSUD dr. Soegiri Lamongan, dr. Abdur Rohman, Sp.PD., FINASIM., M.EK., mengungkapkan bahwa sejumlah faktor medis yang berkaitan dengan penyakit jantung meliputi hipertensi yang tidak terkontrol, diabetes, obesitas, serta dislipidemia atau gangguan kadar lemak dalam darah.

Selain faktor medis, pola hidup yang tidak sehat turut memperbesar risiko. Kebiasaan merokok, pola makan tidak terkontrol, kurang aktivitas fisik, stres, hingga kualitas tidur yang buruk menjadi sejumlah faktor yang perlu mendapat perhatian.

Pencegahan, menurut Abdur Rohman, harus dimulai dari perubahan kebiasaan sehari-hari. Menghindari rokok, mengatur pola makan, rutin berolahraga, serta mengendalikan penyakit metabolik seperti diabetes dan hipertensi merupakan bagian penting untuk menekan risiko penyakit jantung.

Persoalan yang lebih serius muncul ketika masyarakat terlambat mengenali gejala dan mencari pertolongan medis. Keterlambatan penanganan serangan jantung dapat meningkatkan risiko kematian hingga dua sampai tiga kali lipat. Bahkan, setiap keterlambatan 30 menit dalam penanganan dapat meningkatkan risiko mortalitas secara bermakna.

Dampaknya tidak berhenti pada meningkatnya risiko kematian. Pasien yang terlambat menjalani pemeriksaan dan penanganan juga berpotensi mengalami gagal jantung kronis, penurunan kualitas hidup, serta komplikasi lanjutan yang membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa penanganan penyakit jantung bukan hanya persoalan ketersediaan dokter dan fasilitas medis. Kecepatan pasien memperoleh pertolongan, kesadaran melakukan deteksi dini, serta kesiapan sistem pelayanan kesehatan merespons kondisi darurat menjadi faktor yang sama pentingnya.

Saat ini, layanan jantung RSUD dr. Soegiri didukung tiga dokter spesialis jantung dan pembuluh darah. Fasilitas yang tersedia meliputi pemeriksaan jantung dasar, elektrokardiografi (EKG), ekokardiografi, treadmill test, hingga ruang perawatan intensif jantung atau Intensive Cardiac Care Unit (ICCU).

Penguatan pelayanan juga dilakukan melalui jejaring fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP), terutama puskesmas. Abdur Rohman menjelaskan, kerja sama tersebut telah berlangsung sejak lama dengan fokus pada peningkatan kompetensi tenaga kesehatan dalam menangani kondisi kegawatdaruratan, termasuk kegawatan jantung.

“Pendampingan FKTP terutama puskesmas dilakukan dalam rangka peningkatan kompetensi SDM kesehatan terkait kegawatdaruratan, termasuk kegawatan jantung, mulai dari pertolongan awal pada penderita sampai pada rujukan,” jelas Abdur Rohman saat dikonfirmasi, Selasa (3/11/2026).

Untuk mendukung peningkatan kompetensi tersebut, RSUD dr. Soegiri memiliki Unit Pendidikan dan Pelatihan (Diklat). Sementara edukasi pencegahan kepada masyarakat dilakukan melalui Instalasi Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS), termasuk pemanfaatan kanal media sosial.

Di tengah tantangan meningkatnya risiko penyakit jantung, penguatan kapasitas pelayanan menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan. Salah satu langkah yang disiapkan RSUD dr. Soegiri adalah pengembangan catheterization laboratory (cathlab), fasilitas untuk mendukung tindakan medis melalui kateterisasi jantung.

Abdur Rohman mengungkapkan, persiapan layanan tersebut telah dimulai dari penguatan sumber daya manusia. Salah satunya melalui pengiriman dokter spesialis jantung ke China untuk mengikuti program fellowship guna mendalami pelayanan cathlab.

Selain itu, pengembangan layanan akan mendapatkan pendampingan dari rumah sakit pengampu, yakni RSUD dr. Soetomo Surabaya.

Dari sisi infrastruktur, pembangunan gedung cathlab ditargetkan berlangsung pada semester pertama 2027. Instalasi peralatan direncanakan pada semester kedua tahun yang sama. Pada periode tersebut, kerja sama dengan BPJS Kesehatan juga direncanakan untuk mendukung pembiayaan pelayanan pasien.

“Kalau semuanya lengkap, termasuk perizinan dan BPJS, insyaallah akhir tahun 2027 bisa operasional,” ungkap Abdur Rohman saat memberikan konfirmasi lanjutan, Selasa (3/11/2026).

Target tersebut menunjukkan bahwa operasional cathlab tidak hanya bergantung pada penyelesaian pembangunan fisik dan pemasangan peralatan. Kesiapan tenaga medis, kelengkapan perizinan, pendampingan pelayanan, serta kerja sama pembiayaan menjadi bagian yang harus dipenuhi sebelum layanan dibuka untuk masyarakat.

Pengembangan cathlab diharapkan memperkuat kemampuan RSUD dr. Soegiri dalam menangani kasus penyakit jantung yang membutuhkan tindakan lebih lanjut. Kehadirannya juga menjadi bagian dari upaya memperkuat akses pelayanan kesehatan jantung di Lamongan.

Di tengah ancaman penyakit jantung yang mulai menjangkau kelompok usia produktif, tantangan pelayanan kesehatan tidak cukup dijawab dengan ketersediaan fasilitas pengobatan. Deteksi dini, penguatan jejaring rujukan, kesiapan tenaga medis, dan kemampuan menangani pasien secara cepat menjadi rangkaian yang menentukan kualitas pelayanan. (JN)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.

Komentar (0)

You cannot copy content of this page

Back to top