Kenali Gejala BPH, RSUD dr Soegiri Lamongan Imbau Pria Usia 50 Tahun ke Atas Rutin Periksa
GLOBALJATIM
LAMONGAN – Kasus Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) atau pembesaran prostat jinak menjadi salah satu penyakit yang cukup sering ditangani di RSUD dr Soegiri Lamongan setelah kasus batu ureter. Kondisi ini umumnya dialami pria lanjut usia dan perlu dikenali sejak dini agar tidak mengganggu kualitas hidup.
Wakil Direktur Penunjang dan Pelayanan RSUD dr Soegiri Lamongan, dr. Budi Himawan, Sp.U, MM, FICS, menjelaskan bahwa BPH merupakan pembesaran kelenjar prostat yang terjadi secara alami sebagai bagian dari proses penuaan.
“Keluhan yang paling sering dirasakan pasien adalah kencing tidak lancar, sering buang air kecil pada malam hari, harus mengejan saat berkemih, sulit menahan kencing, dan rasa tidak lampias setelah buang air kecil,” ujar dr Budi, Kamis (16/4/2026).
Menurutnya, gejala BPH dapat dikenali melalui tiga kelompok keluhan utama.
Pertama, gejala iritasi atau gangguan saat pengisian urin di kandung kemih, seperti sering buang air kecil lebih dari biasanya, sering terbangun malam untuk berkemih, rasa ingin buang air kecil yang mendadak dan sulit ditahan, hingga mengompol.
Kedua, gejala obstruksi yang muncul saat proses berkemih, antara lain pancaran urin yang lemah, aliran urin terputus-putus, harus mengejan, menunggu sebelum urin keluar, serta membutuhkan waktu lebih lama saat buang air kecil.
Ketiga, gangguan pasca berkemih, yakni muncul rasa tidak lampias dan urin yang masih menetes setelah selesai buang air kecil.
“Jika keluhan ini terjadi, terutama pada pria usia di atas 50 tahun, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter spesialis urologi,” katanya.
dr Budi menegaskan, BPH paling sering terjadi pada pria berusia di atas 50 tahun.
“Pada usia muda sangat jarang. Kalau ada keluhan yang mirip, biasanya penyebabnya bukan BPH, melainkan infeksi atau batu di saluran kemih,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa penyakit ini tidak dapat dialami wanita, karena wanita tidak memiliki organ prostat.
“Meski demikian, wanita bisa mengalami keluhan serupa akibat infeksi saluran kemih atau batu saluran kemih,” tambahnya.
Untuk memastikan diagnosis, dokter akan melakukan anamnesis secara detail, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang seperti USG dan tes laboratorium.
Masyarakat juga dapat mengenali gejalanya secara mandiri di rumah, terutama jika sering mengalami gangguan buang air kecil yang berlangsung berulang.
Mengenai peluang kesembuhan, dr Budi menjelaskan bahwa BPH tidak bisa hilang sepenuhnya karena berkaitan dengan proses penuaan.
“Ini tidak bisa hilang total, tetapi bisa dikontrol dengan baik agar pasien tetap nyaman menjalani aktivitas sehari-hari,” ujarnya.
Penanganannya dapat berupa obat untuk melancarkan buang air kecil, obat untuk membantu mengecilkan prostat, hingga tindakan operasi jika kondisi sudah berat.
Sebagai langkah menjaga kondisi kesehatan, penderita BPH dianjurkan menerapkan pola hidup sehat, seperti menghindari konsumsi kopi dan minuman beralkohol secara berlebihan, tidak menahan buang air kecil terlalu lama, serta rutin berolahraga.
Selain itu, menjaga berat badan ideal dan melakukan kontrol kesehatan rutin juga menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko gangguan prostat.
“BPH memang tidak bisa dicegah sepenuhnya, tetapi risikonya bisa dikurangi dengan pola hidup sehat dan pemeriksaan rutin, terutama bagi pria usia di atas 50 tahun,” tutup dr Budi. (Jn)


Komentar (0)