Pasien Kasus Campak Sembuh, Dinkes Lamongan Tetap Gencarkan Imunisasi

Oleh Global Jatim • 31 Agu 2025, 07:12 WIB • 96 Views

GLOBALJATIM
LAMONGAN – ​Dinas Kesehatan (Dinkes) Lamongan mengonfirmasi seluruh lima pasien kasus campak yang terdeteksi di wilayahnya telah sembuh total. Meskipun kasus berhasil ditangani dan tidak menyebar, Dinkes Lamongan tetap meningkatkan kewaspadaan dan mengimbau masyarakat untuk melengkapi imunisasi, khususnya bagi anak-anak.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lamongan dr. Mohammad Chaidir Annas menyebutkan, dari 51 sampel yang dicurigai dan dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLABKESMAS) Surabaya, lima di antaranya dinyatakan positif campak. Sampel ini dikumpulkan dari bulan Januari hingga Agustus 2025.

“Semua kasus yang terdeteksi sudah sembuh dan bisa kami lokalisir. Sampai saat ini, tidak ada perkembangan kasus baru,” kata dr. Annas, Sabtu (30/8/2025).

​dr. Annas juga menjelaskan, dari lima kasus positif tersebut, tiga di antaranya diduga terpapar saat melakukan perjalanan ke luar Kabupaten Lamongan, sementara dua kasus lainnya murni berasal dari Lamongan.

“Semuanya aman, artinya tidak ada kasus kematian yang diakibatkan oleh campak,” ujarnya.

​Pentingnya Imunisasi untuk Cegah Penyakit

​Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Lamongan fokus pada upaya pencegahan melalui imunisasi. Menurut dr. Annas, campak termasuk dalam kategori PD3I (Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi), yaitu penyakit serius akibat virus dan bakteri yang efektif dicegah dengan vaksinasi.

​”Kami menekankan agar semua balita di Lamongan mendapatkan imunisasi lengkap, tidak hanya campak. Imunisasi campak juga akan diulang saat anak memasuki usia sekolah, yaitu kelas 1 SD (umur 6-7 tahun),” ucapnya.

​Upaya ini juga diperkuat dengan program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) yang berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan. “Imunisasi ini gratis, sangat disayangkan kalau tidak dimanfaatkan. Ini adalah perlindungan cuma-cuma dari pemerintah,” tambahnya.

​Capaian Imunisasi Masih Perlu Peningkatan

​Meskipun sosialisasi terus digencarkan, dr. Annas mengakui masih ada tantangan di lapangan. Data per Juli 2025 menunjukkan capaian imunisasi Measles Rubella (MR) I baru 39,2% dari target 18.142 balita. Sedangkan untuk imunisasi MR II, capaiannya 39,6% dari target 18.283 balita.

​Sementara itu, dalam kegiatan BIAS per 23 Agustus 2025, capaian imunisasi MR untuk anak sekolah dasar kelas 1 baru 30,61% dari 17.862 anak. Capaian imunisasi lain seperti DT, Td, dan HPV juga masih belum maksimal.

​dr. Annas menyampaikan bahwa masih ada sebagian kecil masyarakat yang memiliki pandangan berbeda mengenai imunisasi. Namun, ia tetap menghormati pendapat tersebut dan menekankan bahwa tujuan imunisasi adalah untuk mencapai kekebalan komunitas atau kekebalan komunal.

​”Target kami minimal 95% kekebalan komunitas. Dengan begitu, masyarakat yang belum sejalan dengan pemahaman kami bisa terlindungi,” ujarnya.

​Ia juga meluruskan kekhawatiran masyarakat tentang efek samping imunisasi. “Efek yang merugikan itu sangat kecil. Kenaikan suhu setelah imunisasi itu wajar dan merupakan bagian dari proses terbentuknya kekebalan tubuh. Tidak semua anak akan mengalaminya,” pungkas dr. Annas. (Jn)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.

Komentar (0)

You cannot copy content of this page

Back to top