MBG Lamongan Diperketat: Kualitas, Transparansi, dan Dampak Nyata

Oleh Global Jatim • 28 Mar 2026, 16:45 WIB • 178 Views

GLOBALJATIM
LAMONGAN – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai berjalan masif di daerah, termasuk di Lamongan. Program ini tidak sekadar distribusi pangan, tetapi misi strategis menyiapkan generasi sehat dan tangguh menuju Indonesia Emas 2045.

Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, menegaskan MBG adalah tugas kemanusiaan yang harus dijalankan dengan integritas, bukan semata kepentingan ekonomi.
“Laksanakan dengan hati, seolah memberi makan keluarga sendiri. Ini bukan sekadar program, tapi bagian dari pengabdian,” ujarnya dalam halal bihalal mitra MBG di Sport Center Lamongan, Sabtu (28/3/2026).

Menurutnya, MBG berperan langsung membentuk kualitas sumber daya manusia dalam 10–20 tahun ke depan. Karena itu, standar gizi dan kualitas menu menjadi prioritas utama. Pemerintah daerah membuka ruang pengawasan publik untuk memastikan program berjalan tepat sasaran.
“Setiap rupiah harus berdampak nyata bagi anak-anak,” tegasnya.

Di tengah kritik minor di media sosial, fakta lapangan menunjukkan dukungan luas. Mayoritas masyarakat merasakan manfaat langsung program ini.

Komitmen pemerintah pusat juga kuat. Presiden Prabowo Subianto menegaskan keseriusan penuh terhadap keberhasilan MBG, yang kemudian diterjemahkan hingga ke daerah sebagai tanggung jawab bersama.

Dari sisi operasional, Dandim 0812/Lamongan Letkol Inf Deni Suryo Anggo Digdo menyebut Lamongan memiliki 147 dapur aktif—termasuk yang terbanyak secara nasional. Evaluasi rutin dilakukan untuk menjaga standar menu dan efisiensi anggaran.
“Kontrol kualitas menjadi kunci agar manfaatnya maksimal,” ujarnya.

Kapolres Lamongan AKBP Arif Fazlurrahman menambahkan, MBG juga mendorong ekonomi lokal.
“Perputaran anggaran lebih dari Rp1 triliun per tahun memberi efek berganda bagi masyarakat,” katanya. Ia menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana.

Di lapangan, pengawasan diperkuat melalui sinergi lintas pihak. Koordinator SPPG Kecamatan Lamongan, Agustin, menegaskan distribusi menu harus sesuai standar gizi dan anggaran.
“Pengawasan kolektif penting agar kualitas tetap terjaga,” ujarnya.

Dengan standar gizi terukur, sajian layak, dan pengawasan ketat, MBG di Lamongan tidak hanya mengenyangkan, tetapi menjadi fondasi lahirnya generasi unggul. Program ini menegaskan satu hal: kualitas dan ketepatan sasaran adalah harga mati. (JN).

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.

Komentar (0)

You cannot copy content of this page

Back to top