Pelatihan Las 3G Jadi Andalan, Pemkab Lamongan Tancap Gas Kurangi Pengangguran
GLOBALJATIM
LAMONGAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamongan melalui Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) terus tancap gas menekan angka pengangguran. Salah satu unsur. langkah konkretnya adalah dengan membekali para pencari kerja lokal dengan keahlian spesifik yang paling diburu industri saat ini: pengelasan teknis Plate Welder SMAW 3G.
Program bertajuk Pelatihan Berbasis Kompetensi Tahun 2026 ini resmi dibuka oleh Kepala Disnaker Lamongan, Mokhammad Zamroni, di Aula Lantai 1 Balai Latihan Kerja (BLK), Kamis (16/4/2026).
Zamroni menegaskan bahwa pemilihan kejuruan las bukan tanpa alasan. Kurikulum pelatihan tahun ini disusun menggunakan prinsip link and match, yakni menyelaraskan kompetensi peserta dengan kebutuhan nyata perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di wilayah Lamongan.
“Pelatihan tahun ini memang kita sesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja. Kita siapkan tenaga kerja yang ahli di bidang pengelasan karena sektor ini paling banyak dibutuhkan oleh perusahaan di Lamongan,” ujar Zamroni, Kamis (16/4/2026).
Ia menambahkan, meski persaingan kerja cukup ketat, Pemkab berkomitmen untuk mencetak sumber daya manusia (SDM) yang memiliki daya saing tinggi. “Tak hanya las, kita juga berencana membuka kelas khusus untuk operator forklift dan alat berat (bego),” katanya.
Sebanyak 16 peserta terpilih akan menjalani pelatihan intensif selama 36 hari. Berbeda dengan sekolah formal, porsi pelatihan ini jauh lebih besar pada praktik lapangan daripada teori.
“Kita lebih menekankan pada skill atau keterampilan. Anggaran pelatihan ini murni dari APBD Pemkab Lamongan sebagai bentuk investasi pada SDM lokal,” tuturnya.
Zamroni berharap para peserta memanfaatkan kesempatan emas ini dengan disiplin tinggi. “Ikuti dengan senang hati agar ilmu terserap maksimal. Ini adalah langkah awal yang luar biasa untuk masa depan kalian,” ucapnya
Instruktur pelatihan dari UD Muncul Rejeki, Muhammad Yunus, membeberkan alasan teknis di balik pemilihan kualifikasi SMAW 3G. Menurutnya, kualifikasi ini adalah “tiket masuk” utama ke industri berat, termasuk sektor perkapalan.
“Teknis las itu ada tingkatannya, dari 1G sampai 6G. Kita ambil 3G karena banyak perusahaan di Lamongan yang mencari kualifikasi ini. Kalau sudah menguasai 3G sampai 6G, mereka sudah bisa masuk ke industri perkapalan,” kata Yunus yang sudah bermitra dengan Disnaker sejak 2014.
Ia menjelaskan, jika 1G hanya untuk pengelasan datar seperti pagar rumah, maka 3G menuntut teknik yang lebih rumit dan presisi. Tak hanya menyolder besi, peserta juga dibekali dasar-dasar kelistrikan AC/DC.
“Kami didampingi asisten Pak Muhammad Susilo akan mengajarkan kelistrikan juga. Harapannya, setelah lulus mereka tidak hanya sekadar bisa ngelas, tapi paham teknisnya sehingga bisa langsung terserap di perusahaan atau membuka jasa las sendiri,” ujar Yunus. (JN)

Komentar (0)