Ketika Bangku Sekolah Kosong: Ribuan Anak Lamongan Tinggalkan Mimpi, Pemkab Gerakkan “Aksi Biru”
GLOBALJATIM
LAMONGAN – Di sudut-sudut desa Lamongan, ada kursi-kursi kosong di ruang kelas. Meja yang dulu dipenuhi coretan pensil kini berdebu, sementara buku-buku berhenti dibuka. Bukan karena libur panjang, melainkan karena pemiliknya tak lagi datang. Mereka adalah ribuan anak Lamongan yang kini tercatat sebagai Anak Tidak Sekolah (ATS).
Data terbaru Pemerintah Kabupaten Lamongan mengungkap fakta yang mencengangkan: sepuluh kecamatan menjadi penyumbang terbesar angka ATS. Brondong menduduki posisi tertinggi dengan 735 anak, disusul Paciran (700 anak) dan Babat (682 anak). Deretan lainnya tak kalah memprihatinkan—Laren (537 anak), Sekaran (424 anak), Maduran (382 anak), Solokuro (342 anak), Kedungpring (295 anak), Sugio (290 anak), hingga Kecamatan Lamongan (254 anak).
Di balik angka-angka itu, ada cerita anak yang terpaksa membantu orang tua di ladang, atau remaja yang memilih bekerja demi menambah penghasilan keluarga. Mimpi mereka tertunda, bahkan ada yang hilang sama sekali.
Ironisnya, tingginya angka ATS ini hadir di tengah langkah Pemkab Lamongan meluncurkan program Aksi Biru (Anak Tidak Sekolah Kembali Sekolah Melalui Bakti Insan Guru) pada Selasa (5/8/2025) di Aula Gajah Mada, Lantai 7 Pemkab Lamongan. Program ini menjadi upaya nyata untuk menjemput kembali anak-anak yang meninggalkan bangku sekolah, menghidupkan lagi semangat belajar yang sempat padam.
Sekretaris Daerah Kabupaten Lamongan, Moh Nalikan, mengingatkan bahwa ini bukan sekadar persoalan pendidikan.
“Anak-anak adalah generasi penerus kita. Kalau banyak yang tidak sekolah, beberapa tahun ke depan Lamongan akan menurun, baik dari sisi pendidikan maupun ekonomi,” ucapnya dengan nada penuh kepedulian.
Fenomena ini adalah alarm keras bagi semua. Menyelamatkan satu anak untuk kembali bersekolah berarti menjaga satu masa depan. Dan masa depan Lamongan ada di tangan generasi kecil yang hari ini masih punya kesempatan untuk bermimpi. (Jn)


Komentar (0)