Bojonegoro Dorong Literasi dan Lestarikan Bahasa Daerah Melalui Uji Baca Cerita Anak
GLOBALJATIM
BOJONEGORO – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo), terus berkomitmen meningkatkan budaya baca dan melestarikan bahasa daerah. Salah satu upayanya adalah dengan menggelar talkshow “SAPA! Malowopati FM” pada Selasa (7/10/2024), bekerja sama dengan Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber berkompeten, di antaranya Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, Dr. Puji Retno Hardiningtyas, M.Hum.; Tim Penerjemah Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, Awaludin Rusiandi; serta perwakilan Dinas Kominfo Bojonegoro, Emi Sudarwati, S.Pd.
Selain talkshow, Pemkab Bojonegoro bersama UPT Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Jawa Timur juga menyelenggarakan Uji Keterbacaan Naskah Cerita Anak Dwibahasa. Kegiatan ini dilaksanakan di SDN Kepatihan, Bojonegoro.
Dr. Puji Retno Hardiningtyas dalam pemaparannya menekankan, uji keterbacaan merupakan tahap krusial sebelum naskah atau buku diedarkan ke masyarakat. “Tujuannya untuk memastikan kesesuaian isi cerita dengan tingkat pemahaman pembaca,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Kami ingin mengetahui sejauh mana anak-anak dapat memahami cerita, apakah bahasanya mudah dicerna dan kontekstual dengan budaya mereka.”
Bojonegoro dipilih sebagai lokasi uji coba karena dinilai memiliki banyak penulis lokal dan merepresentasikan wilayah barat Jawa Timur. Salah satu cerita yang diuji bahkan berlatar belakang Bojonegoro, sehingga pengujian di daerah ini dianggap tepat untuk mengukur relevansinya.
Sebanyak 16 judul cerita anak dwibahasa diujikan. Retno menjelaskan, setiap produk Kementerian Pendidikan wajib melalui proses validasi—mulai penilaian anak-anak sebagai pembaca pertama, hingga evaluasi oleh Pusat Kurikulum. Setelah memperoleh Surat Keputusan Menteri, buku baru dapat dicetak dan disebarluaskan.
“Seluruh muatan lokal di Jawa Timur berpotensi dimasukkan ke dalam buku cerita anak, bahkan disajikan dalam beragam format seperti aksara braille dan audiobook agar lebih inklusif,” tambah Retno.
Sementara itu, Awaludin Rusiandi, dari Tim Penerjemah Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, mengungkapkan bahwa proses penerjemahan melibatkan sepenuhnya sumber daya lokal. “Ini bukan sekadar proyek penerjemahan, tapi juga upaya pemberdayaan. Mulai dari penerjemah, ilustrator, hingga layouter, semuanya dari Jawa Timur,” jelasnya.
Awaludin menambahkan, menerjemahkan cerita anak memiliki tantangan tersendiri. Bahasa yang digunakan harus disesuaikan dengan tingkat pemahaman dan psikologi anak. “Membuat cerita untuk anak membawa tanggung jawab moral. Kami ingin hasilnya tetap ringan, namun bermakna,” ucapnya. Ke depan, buku-buku ini rencananya akan diterjemahkan ke berbagai bahasa internasional.
Uji keterbacaan di SDN Kepatihan mencakup tiga varian bahasa daerah, yaitu Bahasa Jawa, Jawa Dialek Osing, dan Bahasa Madura. Harapannya, siswa dapat mengenal keragaman bahasa di Pulau Jawa. Setiap cerita juga mengintegrasikan unsur STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics) untuk mengasah daya pikir kritis dan kreatif anak.
Di kesempatan yang sama, Emi Sudarwati dari Dinas Kominfo Bojonegoro menyatakan, pihaknya mendukung penguatan budaya berbahasa daerah melalui berbagai kegiatan literasi, seperti lomba bertutur dan pelatihan menulis. “Kami ingin anak-anak Bojonegoro bangga menggunakan bahasa daerah. Jangan takut salah, karena belajar bahasa harus menyenangkan,” tegasnya.
Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur membuka peluang bagi masyarakat yang ingin terlibat dalam kegiatan literasi, baik sebagai penulis, ilustrator, maupun penerjemah. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui laman resmi www.balaibahasajatim.kemendikdasmen.go.id atau media sosial Balai Bahasa Jatim. (Red)


Komentar (0)