Penyebab Bau Menyengat di Lamongan Bukan dari PT BMI, Warga Harapkan Solusi Pencemaran Udara

Oleh Global Jatim 28 Mar 2025, 21:36 WIB 124 Views

GLOBALJATIM
LAMONGAN – Isu pencemaran udara akibat bau limbah yang sempat meresahkan warga di Kecamatan Deket, Kabupaten Lamongan, akhirnya terungkap. Setelah beberapa waktu penuh spekulasi, ternyata bau menyengat yang mengganggu kenyamanan masyarakat bukan berasal dari PT Bumi Menara Internusa (BMI).

Sukri, salah satu warga Desa Srirande, yang selama ini tinggal dekat dengan pabrik, menegaskan bahwa ia tidak pernah merasakan bau tak sedap yang berasal dari BMI. “Saya rasa bau yang sering muncul bukan berasal dari PT BMI,” ungkap Sukri, Jumat (28/3/2025).

Menurut Sukri, ada kemungkinan bau tersebut berasal dari sumber lain di sekitar Kecamatan Deket, yang lebih berpotensi menyebabkan aroma tidak sedap, terutama pada malam hari. “Ada sumber lain yang lebih menyengat, yang harus segera diidentifikasi,” tambahnya.

Sukri berharap, dengan komunikasi yang baik dan tindakan cepat, pencemaran udara dapat segera diatasi, agar lingkungan sekitar pabrik kembali bersih dan nyaman untuk dihuni.

Sujono, warga lainnya, juga menyampaikan hal serupa. Ia mengungkapkan bahwa faktor cuaca dan angin sering kali membawa bau dari berbagai sumber ke permukiman.

“Kadang kalau angin berhembus ke arah sini, ada bau menyengat, tapi bukan dari pabrik itu. Bisa jadi ada sumber lain yang harus dicek lebih lanjut,” ujarnya.

Di sisi lain, Toni Kuswadi, Asisten Manager GA PT BMI, menjelaskan bahwa perusahaan telah melakukan peralihan teknologi dalam proses pengolahan limbah di Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

“Kami mengubah sistem pengolahan limbah menggunakan bakteri. Dengan metode ini, bau limbah tidak akan ada lagi,” kata Toni.

Peralihan ini menggunakan teknologi berbasis bakteri, yang dianggap lebih ramah lingkungan dan efisien dibandingkan metode pengolahan limbah kimiawi. Dalam sistem ini, mikroorganisme digunakan untuk menguraikan zat pencemar dalam limbah domestik, industri, dan pertanian. Terdapat dua metode utama dalam pengolahan limbah berbasis bakteri, yaitu aerobik dan anaerobik, yang masing-masing menggunakan atau tanpa oksigen.

Teknologi pengolahan limbah berbasis bakteri ini diharapkan menjadi alternatif yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan, sekaligus membuktikan komitmen BMI untuk menjaga kualitas lingkungan dan kenyamanan warga sekitar.

“Keberhasilan sistem baru ini juga merupakan upaya BMI dalam menangani bau limbah dan mengurangi dampak pencemaran udara,” tambah Toni.

Dengan langkah ini, diharapkan masalah bau limbah yang sempat meresahkan masyarakat di sekitar pabrik dapat segera teratasi dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan nyaman. (Jn)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.

Komentar (0)

You cannot copy content of this page

Back to top