Harga Daging Sapi Naik Lima Kali, Pedagang di Lamongan Kompak Tutup Lapak Tiga Hari

Oleh Globaljatim • 15 Jul 2026, 20:21 WIB • 85 Views

GLOBALJATIM
LAMONGAN – Lonjakan harga daging sapi yang telah terjadi lima kali sepanjang 2026 memicu aksi serentak para pedagang di Kabupaten Lamongan. Sebanyak 19 pedagang di sejumlah pasar tradisional memilih menghentikan aktivitas jual beli selama tiga hari sebagai bentuk protes atas kenaikan harga yang dinilai semakin membebani pedagang sekaligus menekan daya beli masyarakat.

Suasana pun berubah di sejumlah pasar, seperti Pasar Sidoharjo, Pasar Ikan Lamongan, dan Pasar Made. Lapak-lapak yang biasanya dipadati pembeli tampak tertutup tanpa aktivitas transaksi.

Salah seorang pedagang daging sapi di Pasar Sidoharjo, Bagus Budi Raharjo, mengatakan keputusan meliburkan usaha diambil setelah para pedagang menerima pemberitahuan adanya kenaikan harga terbaru dari pedagang sapi hidup dan jagal sapi.

“Sejak Minggu sore kami mendapat pemberitahuan bahwa ada kenaikan harga lagi. Ini sudah kenaikan yang kelima sepanjang tahun 2026,” ujar Bagus, Rabu (15/7/2026).

Ia menjelaskan, pada awal Januari 2026 harga daging sapi kategori medium masih berada di kisaran Rp110 ribu per kilogram. Setelah mengalami kenaikan bertahap sebanyak lima kali, kini harganya telah menembus Rp130 ribu per kilogram.

Menurutnya, kondisi tersebut menempatkan pedagang dalam posisi yang semakin sulit. Mereka harus mengikuti kenaikan harga dari pemasok, sementara di sisi lain konsumen mulai mengurangi pembelian karena harga dinilai semakin tinggi.

“Paguyuban pedagang akhirnya berkumpul untuk mencari solusi. Banyak pelanggan yang komplain karena harga terus naik. Kami sepakat libur tiga hari agar ada ketenangan secara psikologis setelah kenaikan yang kembali terjadi, padahal Juni lalu harga juga baru naik,” katanya.

Bagus menyebut lonjakan harga yang berulang dalam waktu singkat merupakan kondisi yang belum pernah dialami para pedagang selama sekitar satu dekade terakhir.

“Ini pertama kalinya dalam sekitar 10 tahun terakhir harga daging sapi naik sampai lima kali hanya dalam setengah tahun. Situasi seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya,” ucapnya.

Dampaknya mulai dirasakan sejak musim hajatan pada Mei lalu. Kenaikan harga membuat sebagian masyarakat beralih ke bahan pangan lain yang lebih terjangkau, seperti daging ayam.

“Permintaan jelas turun. Saat musim hajatan biasanya kebutuhan daging sapi tinggi, tetapi karena harganya terus naik masyarakat memilih menu alternatif yang lebih terjangkau,” tuturnya.

Turunnya daya beli itu ikut menekan omzet para pedagang. Mereka mengaku semakin sulit mempertahankan pelanggan di tengah harga yang terus bergerak naik.
Para pedagang berharap ketersediaan sapi potong dapat terjaga sehingga pasokan kembali stabil dan gejolak harga dapat dikendalikan.

“Harapan kami sederhana, ketersediaan sapi sesuai kebutuhan masyarakat. Kalau pasokan terpenuhi, kami yakin gejolak harga bisa diminimalkan dan aktivitas pasar kembali normal,” pungkas Bagus.

Aksi libur serentak yang dilakukan para pedagang menjadi gambaran nyata tekanan yang kini dirasakan pelaku usaha daging sapi di pasar tradisional. Jika kondisi ini terus berlangsung, dampaknya tidak hanya dirasakan pedagang, tetapi juga berpotensi menekan daya beli masyarakat dan mengganggu aktivitas perdagangan di pasar-pasar tradisional. (JN)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.

Komentar (0)

You cannot copy content of this page

Back to top