Merdeka Yang Tersangkut di Tengah Jalan

Oleh Global Jatim 17 Agu 2026, 06:48 WIB 73 Views

Oleh : Global Jatim
Penulis : Mujiono

 

GLOBALJATIIM
Setiap Agustus, bendera merah putih kembali dikibarkan di tiang-tiang rumah, kantor, dan jalanan. Lagu kebangsaan berkumandang, pidato kemerdekaan diucapkan dengan lantang, dan janji-janji masa depan diulang-ulang seolah tak pernah usang.

Namun di balik gemuruh perayaan itu, ada suara yang nyaris tak terdengar: suara rakyat yang menjerit dalam diam, menanggung beban ekonomi yang makin mencekik, dan merasakan betapa kata “keadilan sosial” perlahan menjadi sekadar kalimat tertulis di atas kertas.

Kemerdekaan seharusnya bukan sekadar bebas dari penjajah asing. Kemerdekaan sejati adalah ketika setiap warga negara bisa hidup layak, memenuhi kebutuhan dasar tanpa cemas, dan mendapatkan perlakuan yang setara di hadapan hukum dan kebijakan.

Namun kenyataannya, hari ini banyak warga bangsa merayakan kemerdekaan dengan perut yang belum tentu kenyang. Harga kebutuhan pokok terus merangkak naik, pendapatan tak sebanding dengan biaya hidup, sementara kesempatan yang adil terasa semakin menjauh hanya terjangkau segelintir orang yang punya akses dan kekuasaan.

Kita menyaksikan bagaimana kemakmuran tidak menyebar merata, melainkan menumpuk di sejumlah tangan yang sama. Sementara itu, mayoritas rakyat harus bertahan dengan pengorbanan tiap hari: menunda berobat, mengurangi porsi makan, membiarkan impian anak terhenti karena biaya yang tak terjangkau. Di sinilah letak kegagalan: kemerdekaan yang kita banggakan ternyata belum mampu mewujudkan keadilan sosial yang dijanjikan sejak awal.

Negara tidak boleh hanya menjadi penonton saat rakyatnya makin terpuruk. Pemerintah bukan sekadar penyelenggara upacara, melainkan pemegang amanah untuk menyejahterakan seluruh rakyat tanpa kecuali.

Jika kebijakan ekonomi hanya menguntungkan kelompok tertentu, jika hukum terasa berat bagi yang lemah dan lunak bagi yang kuat, maka kemerdekaan yang dirayakan hanyalah kemerdekaan sebagian kemerdekaan yang tidak lengkap, dan tidak adil.

Memperingati hari kemerdekaan seharusnya bukan sekadar pesta perayaan, melainkan momen perenungan jujur. Sudahkah kita merdeka sepenuhnya? Atau kita baru menggantikan penjajah lama dengan bentuk penindasan baru: kemiskinan yang terstruktur, ketidakadilan yang dibenarkan, dan harapan yang makin lama makin pudar?

Kemerdekaan bukan warisan yang diterima lalu didiamkan. Ia adalah tanggung jawab yang harus dijaga dan diperjuangkan setiap hari. Selama masih ada rakyat yang kesusahan, selama keadilan masih terasa jauh, maka perayaan kemerdekaan hanyalah pertunjukan yang belum tuntas.

Mari kita pastikan bahwa bendera yang berkibar bukan hanya lambang kedaulatan, melainkan tanda bahwa keadilan dan kesejahteraan benar-benar milik seluruh rakyat Indonesia bukan hak istimewa segelintir orang saja.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.

Komentar (0)

You cannot copy content of this page

Back to top