Hari Lahir Pancasila 2026: Saatnya Pers Menjadi Penjaga Persatuan Bangsa
Penulis: Mujiono
Oleh: Redaksi
GLOBALJATIM
Setiap 1 Juni, bangsa Indonesia kembali menoleh ke titik awal lahirnya gagasan besar yang kemudian menjadi dasar negara: Pancasila. Peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni 2026 mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia” , Tema tersebut hadir pada saat yang tepat, ketika dunia sedang menghadapi berbagai tantangan berupa konflik geopolitik, polarisasi sosial, hingga banjir informasi yang kerap mengaburkan batas antara fakta dan kebohongan.
Bagi insan pers, tema tersebut bukan sekadar slogan peringatan tahunan. Ia merupakan pengingat akan tanggung jawab besar media dalam menjaga persatuan bangsa sekaligus memperkuat nilai-nilai perdamaian melalui kerja jurnalistik yang profesional dan berintegritas.
Dalam kehidupan demokrasi, pers memiliki posisi yang sangat strategis. Media bukan hanya sarana penyebaran informasi, tetapi juga ruang publik tempat berbagai gagasan, kepentingan, dan pandangan bertemu. Karena itu, kualitas demokrasi suatu bangsa sering kali dapat dilihat dari kualitas persnya.
Di era digital saat ini, tantangan yang dihadapi media semakin kompleks. Informasi bergerak dalam hitungan detik melalui berbagai platform. Sayangnya, kecepatan tersebut tidak selalu diiringi dengan akurasi. Hoaks, disinformasi, ujaran kebencian, dan propaganda menjadi ancaman nyata yang dapat memecah belah masyarakat.
Di sinilah nilai-nilai Pancasila menemukan relevansinya. Bagi jurnalis, Pancasila bukan hanya dasar negara yang dipahami secara normatif, melainkan pedoman moral dalam menjalankan profesi. Nilai kemanusiaan mengajarkan pentingnya menghormati martabat setiap individu dalam pemberitaan. Nilai persatuan mengingatkan media agar tidak terjebak dalam praktik jurnalistik yang mengeksploitasi perbedaan demi mengejar sensasi dan trafik.
Pers yang berlandaskan semangat Pancasila harus mampu menghadirkan informasi yang mencerahkan, bukan memperkeruh suasana. Media harus menjadi jembatan dialog di tengah perbedaan, bukan justru memperlebar jurang polarisasi yang sudah ada.
Tema tahun ini juga menegaskan posisi Indonesia sebagai bangsa yang menjunjung tinggi perdamaian. Dalam konteks global, nilai-nilai Pancasila sesungguhnya menawarkan contoh bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan kekuatan. Indonesia dengan ratusan suku, bahasa, dan budaya telah membuktikan bahwa persatuan dapat tumbuh di atas perbedaan.
Pers memiliki peran penting dalam merawat narasi tersebut. Melalui pemberitaan yang berimbang, akurat, dan bertanggung jawab, media dapat memperkuat optimisme publik sekaligus menunjukkan kepada dunia bahwa toleransi dan gotong royong masih menjadi fondasi kehidupan berbangsa.
Di tengah kompetisi media yang semakin ketat, godaan untuk mengutamakan sensasi dibanding substansi memang selalu ada. Namun sejarah menunjukkan bahwa pers yang bertahan bukanlah media yang paling gaduh, melainkan media yang paling dipercaya. Kepercayaan publik hanya dapat diraih melalui komitmen pada fakta, independensi, dan kepentingan masyarakat luas.
Karena itu, Hari Lahir Pancasila 2026 seharusnya menjadi momentum refleksi bagi seluruh insan pers. Kebebasan pers yang telah diperjuangkan dengan susah payah harus diimbangi dengan tanggung jawab moral untuk menjaga ruang publik tetap sehat dan produktif.
Pada akhirnya, makna tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia” bagi pers terletak pada satu hal sederhana namun mendasar: menjadikan jurnalisme sebagai sarana memperkuat persatuan, menegakkan kebenaran, dan menghadirkan harapan. Sebab ketika pers mampu menjalankan peran tersebut dengan baik, sesungguhnya media tidak hanya menjaga demokrasi, tetapi juga ikut merawat masa depan bangsa. (*)


Komentar (0)