Refleksi 1 Suro bagi Jurnalis: Menjaga Nurani di Tengah Derasnya Arus Informasi
Penulis: Mujiono
Oleh: Redaksi
GLOBALJATIM
Bagi masyarakat Jawa, 1 Suro bukan sekadar pergantian tahun dalam kalender tradisional. Ia adalah momentum hening untuk menengok ke dalam diri, melakukan introspeksi, serta menata kembali arah perjalanan hidup. Nilai utama yang terkandung dalam tradisi 1 Suro adalah “eling lan waspada” (ingat dan waspada) sebuah filosofi yang tetap relevan di tengah kehidupan modern, termasuk bagi profesi jurnalis.
Di era banjir informasi seperti saat ini, jurnalis menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan masa lalu. Kecepatan sering kali menjadi ukuran utama. Persaingan media digital mendorong setiap redaksi berlomba menjadi yang pertama menyajikan berita. Namun, di balik tuntutan tersebut, muncul pertanyaan mendasar: apakah kecepatan masih berjalan seiring dengan akurasi dan tanggung jawab?
Momentum 1 Suro mengajarkan bahwa tidak semua hal harus dijawab dengan gegap gempita. Ada saatnya manusia berhenti sejenak, merenung, dan mengevaluasi langkah yang telah ditempuh. Dalam konteks jurnalistik, refleksi semacam ini penting untuk mengingat kembali hakikat profesi wartawan sebagai penjaga kepentingan publik, bukan sekadar pemburu klik dan trafik.
Tradisi tapa bisu yang melekat dalam peringatan 1 Suro mengandung makna pengendalian diri dan kemampuan mendengar lebih banyak daripada berbicara. Nilai ini relevan bagi jurnalis yang setiap hari berhadapan dengan berbagai narasi, opini, dan kepentingan. Sebelum menulis dan menyiarkan informasi, wartawan perlu memiliki ruang batin untuk bertanya: apakah berita ini sudah terverifikasi? Apakah pemberitaan ini memberi manfaat bagi masyarakat? Apakah ada pihak yang dirugikan karena kelalaian dalam proses peliputan?
Refleksi 1 Suro juga mengingatkan pentingnya menjaga independensi. Di tengah derasnya polarisasi politik, tekanan ekonomi media, hingga pengaruh algoritma media sosial, jurnalis kerap berada pada persimpangan antara idealisme dan pragmatisme. Ketika ruang publik dipenuhi informasi yang saling bertabrakan, keberanian untuk tetap berpijak pada fakta menjadi nilai yang semakin mahal.
Pada akhirnya, esensi 1 Suro bukanlah soal ritual atau mitos yang sering menyertainya. Yang lebih penting adalah pesan tentang pembaruan diri. Sebagaimana masyarakat Jawa memaknai Suro sebagai awal perjalanan baru yang dijalani dengan kesadaran dan kebijaksanaan, jurnalis pun dapat menjadikannya sebagai momen untuk memperbarui komitmen terhadap etika profesi, integritas, dan keberpihakan kepada kebenaran.
Di tengah dunia yang semakin bising, jurnalisme justru membutuhkan lebih banyak keheningan untuk berpikir jernih. Sebab dari keheningan itulah lahir ketelitian, kebijaksanaan, dan keberanian moral yang menjadi fondasi utama sebuah karya jurnalistik. (*)
“Selamat Tahun Baru Hijriyah. Saatnya para jurnalis tidak hanya melaporkan peristiwa, tetapi juga merefleksikan peran dan tanggung jawabnya bagi kehidupan publik”.


Komentar (0)