​Apa Kabar Perempuan Tangguh Papua

Oleh Globaljatim 06 Sep 2026, 23:05 WIB 213 Views

GLOBALJATIM

Perjalanan Yolanda Yovita Suebu bukanlah lintasan lurus seorang pegawai negeri. Lahir di Sentani, Jayapura, pada 26 Mei 1980, wanita ini memulai kariernya dari ruang kelas sebagai guru di SMA YPK 1 Sentani dan dosen di STT GIDI. Namun, panggilan untuk berkarya lebih luas perlahan menariknya keluar dari tembok sekolah menuju panggung publik yang lebih ramai.

​Namanya mulai dikenal luas ketika ia dipercaya mengemban amanat sebagai anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Papua selama dua periode, dari 2007 hingga 2016. Di sela-sela kesibukan mengawasi gelombang siaran, ia juga menyempatkan diri berkecimpung dalam pengawasan demokrasi sebagai anggota Panwas Distrik Heram.

​Tak puas berhenti di ranah regulasi, Yolanda mendirikan Rumah Pusat Kreatif Papua pada 2019. Tempat ini ia sulap menjadi ruang ekspresi sekaligus pusat pemberdayaan bagi masyarakat lokal. Namanya kian kokoh di dunia jurnalistik ketika ia dipercaya sebagai Koordinator Liputan Papua untuk media Top News.

​Di luar peran publiknya, Yolanda adalah seorang pengusaha media yang menaungi PT Suebu Abadi Jaya. Melalui perusahaan ini, ia mengelola tiga portal berita: Suwarna Papua, Naliblong.com, dan Cahaya Cendrawasih—yang menjadi corong bagi suara-suara dari Tanah Papua.

​Kiprah sosialnya pun tak kalah deras. Yolanda menjadi pendiri Forum Diskusi Perempuan Papua Hebat, Komunitas Peduli Anak Negeri, hingga Pondok Pemberantasan Buta Aksara Jehova Jire. Ia juga aktif di organisasi kemasyarakatan seperti PKK dan Pramuka, serta dipercaya sebagai Ketua DPD Media Online Indonesia Kabupaten Jayapura.

​Pengakuan atas dedikasinya datang dari berbagai penjuru. Ia menyabet gelar Sekretaris Terbaik Awana Internasional di Amerika pada 1998, meraih Juara III Tingkat Nasional Penyuluhan di Jakarta pada 2012, serta mengikuti pelatihan resolusi konflik di Kuba dan pemetaan wilayah adat di Norwegia. Tak jarang ia diundang sebagai pemateri dalam seminar perempuan, pemuda, dan mahasiswa di Papua.

​Namun, mungkin yang paling penting, Yolanda adalah pendamping setia bagi kasus-kasus HAM yang menimpa masyarakat adat. Di balik segala gelar dan kegiatan, ia adalah ibu dari tiga anak—Maikel, Mohofir, dan Gabriel—yang terus mengabdikan napasnya untuk tanah kelahiran.

​Lewat media, pendidikan, dan gerakan sosial, Yolanda membuktikan bahwa seorang guru kelas pun bisa menjadi garda terdepan perubahan. (*)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.

Komentar (0)

You cannot copy content of this page

Back to top