Pemkab Bojonegoro Batalkan BNC 2026 Tapi Tetap Gelar Dua Pesta Meriah, Empati Bencana atau Inkonsistensi Kebijakan?
GLOBALJATIM
BOJONEGORO – Kebijakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro membatalkan gelaran Bojonegoro Night Carnival (BNC) 2026 dalam rangkaian Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke-349 menuai sorotan tajam. Alasan “empati dan keprihatinan” atas bencana kekeringan serta kebakaran yang dilontarkan pejabat daerah dinilai sebagai narasi kosong, menyusul keputusan Pemkab yang tetap memaksakan dua panggung hiburan massa secara bersamaan pada Sabtu (24/10/2026).
Sebelumnya, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bojonegoro, Elzadeba Agustina, mengklaim pembatalan BNC 2026 murni didasari rasa keprihatinan atas musibah kebakaran di sejumlah wilayah Indonesia serta bencana kekeringan yang melanda warga di beberapa kecamatan di Bojonegoro. Namun, dalih empati tersebut dinilai sangat kontradiktif lantaran di hari yang sama Pemkab Bojonegoro justru memfasilitasi pesta rakyat bertajuk Car Free Night dan Bojonegoro Youth Festival.
Berdasarkan data publikasi resmi Pemkab, dua panggung besar disiapkan secara masif. Panggung pertama, Car Free Night dan Festival Sandur di Alun-Alun Bojonegoro, menyajikan pertunjukan seni tradisional Sandur, hingga pembagian 10.000 porsi kuliner gratis dari 100 lebih UMKM. Sementara panggung kedua, Bojonegoro Youth Festival di Gedung DPRD (BSC), menyajikan pertunjukan orchestra, adu skill kreatif, hingga pembagian 600 voucher gratis.
Pengamat kebijakan publik Bojonegoro yang akrab disapa Mas Bog menanggapi sinis sikap ambigu pemerintah daerah tersebut. Menurutnya, klaim empati bencana yang disampaikan Pemkab terkesan sekadar gimik politik penyelamat muka.
“Ini adalah bentuk standar ganda dan inkonsistensi kebijakan yang nyata. Jika alasannya murni empati atas kekeringan warga dan bencana kebakaran, seharusnya seluruh pesta pora hiburan massa dihentikan total, lalu alokasi anggarannya dialihkan untuk bantuan tanggap darurat seperti distribusi air bersih. Membatalkan satu agenda carnival tetapi tetap membagikan belasan ribu porsi makanan dan menggelar konser di dua lokasi pusat kota pada hari yang sama menunjukkan Pemkab Bojonegoro krisis skala prioritas dan tidak memiliki empati yang jujur,” tegas Mas Bog. Sabtu, (24/10/2026).
Sikap bertolak belakang Pemkab Bojonegoro ini juga memicu gelombang kritik pedas dari masyarakat. Sejumlah warga mengeluhkan sikap kontras pemerintah yang sibuk membagikan hiburan dan makanan gratis di pusat kota, sementara warga di pinggiran harus bersusah payah menghadapi krisis air bersih.
“Katanya prihatin dengan bencana dan warga yang kekeringan, tapi kok malah sibuk bagi-bagi 10.000 porsi makanan dan bikin konser di alun-alun? Ini empatinya di mana? Harusnya anggaran hiburan seperti ini dialihkan total buat kirim bantuan tangki air bersih ke desa-desa yang krisis air, bukan malah pesta hura-hura malam mingguan dibilang empati,” cetus salah seorang warga Bojonegoro.
Langkah Pemkab Bojonegoro yang tetap menghadirkan dua panggung besar di tengah klaim keprihatinan bencana kini mempertegas tuduhan publik bahwa narasi empati yang diusung hanyalah tameng untuk menutup ketidakmampuan tata kelola acara daerah. (MJ).


Komentar (0)