Ketika Generasi Muda Enggan Turun ke Lumpur dan Tak Ada Lagi yang Mau Menanam Padi, Siapa yang Akan Menjaga Sawah Kita yang Masih Terhampar?

Oleh Global Jatim • 08 Nov 2026, 20:45 WIB • 7 Views

Oleh : Mujiono

GLOBALJATIM
Aroma kopi hitam di warung desa pagi bercampur dengan kecemasan yang kian menjadi rahasia umum. Di antara kepulan asap rokok, obrolan sederhana di warung kopi itu sesungguhnya menyimpan kegelisahan besar tentang masa depan pertanian kita. Bukan semata soal harga gabah, mahalnya pupuk, atau sulitnya mendapatkan air untuk mengairi sawah.

Kali ini, persoalannya jauh lebih mendasar: makin sulitnya mencari tenaga kerja untuk menanam padi. Musim tanam sudah menetas, bibit di persemaian mulai meninggi, tetapi jemari-jemari yang biasa menancapkan batang hijau ke balik lumpur kian sulit ditemukan.

Fenomena ini bukan lagi ancaman samar di masa depan, melainkan krisis nyata hari ini. Dari tahun ke tahun, tenaga kerja untuk menanam padi semakin berkurang. Bahkan, di sejumlah wilayah, mencari orang yang bersedia turun ke sawah untuk menanam bibit padi bukan lagi perkara mudah. Petani harus mencari dari satu tempat ke tempat lain, bahkan terkadang harus menunggu giliran karena tenaga tanam yang tersedia sangat terbatas.

Persoalan ini bukan sekadar masalah kekurangan pekerja musiman. Ada perubahan sosial yang sedang berlangsung di tengah masyarakat pedesaan. Para sesepuh tani makin renta, sementara regenerasi macet total. Generasi muda semakin sedikit yang tertarik bekerja di sektor pertanian. Generasi milenial, terlebih generasi Z, mulai memandang pekerjaan di sawah sebagai pilihan yang kurang menjanjikan.

Mereka lebih tertarik bekerja di sektor industri, perdagangan, jasa, atau merantau ke kota dengan harapan memperoleh penghasilan yang lebih pasti. Bagi mereka, pekerjaan bertani masih identik dengan panas matahari, lumpur, pekerjaan fisik yang berat, serta pendapatan yang tidak selalu sebanding dengan tenaga dan biaya yang dikeluarkan.

Pemerintah dan pengamat sering menyodorkan modernisasi sebagai obat mujarab: mekanisasi pertanian. Nasihatnya terdengar sederhana, “Ganti tenaga manusia dengan alat mesin tanam (rice transplanter)!” Namun, teori di atas kertas sering kali kandas di atas lumpur tebal.

“Menggunakan alat mesin tanam sangat susah di sawah rawa, beda kalau di lahan tinggi,” celetuk seorang petani lokal dengan nada getir.

Pernyataan lugas itu menelanjangi realitas geografi pertanian Indonesia. Jutaan hektar lahan sawah di wilayah kepulauan berada di ekosistem rawa dan lahan pasang surut dengan struktur tanah lunak bersubstrat dalam. Mesin tanam berbobot berat jangankan bergerak lincah; baru masuk petakan saja sudah ambles dan mogok. Mesin yang dirancang untuk lahan kering atau sawah irigasi teknis berstruktur padat tidak otomatis ampuh menaklukkan medan rawa. Akibatnya, teknologi yang digadang-gadang jadi juru selamat justru tak berkutik di lapangan.

Ketika tenaga kerja manusia sirna dan mesin belum mampu beradaptasi dengan kondisi lokal, pertanyaan krusial yang terlontar di warung kopi itu menggantung kencang: Kita harus bagaimana kalau sudah tidak ada lagi yang mau bertani?

Kita perlu jujur melihat kenyataan bahwa persoalan regenerasi petani bukan lagi ancaman yang jauh di depan mata. Gejalanya sudah terlihat sekarang.

Anak-anak muda di pedesaan semakin sedikit yang ingin meneruskan pekerjaan orang tuanya sebagai petani. Sawah yang dahulu menjadi sumber penghidupan keluarga perlahan tidak lagi menjadi cita-cita generasi berikutnya.

Padahal, siapa pun membutuhkan beras untuk makan setiap hari. Kota membutuhkan beras, industri membutuhkan bahan pangan, dan seluruh masyarakat bergantung pada hasil kerja para petani.

Kita sering berbicara tentang ketahanan pangan dan swasembada beras. Namun, ada satu pertanyaan mendasar yang tidak boleh diabaikan: bagaimana mungkin ketahanan pangan bisa terwujud jika orang-orang yang bekerja menanam padi semakin sulit ditemukan?

Ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh luas lahan, ketersediaan pupuk, benih unggul, irigasi, dan alat mesin pertanian. Lebih dari itu, ketahanan pangan membutuhkan manusia yang bersedia dan mampu mengelola lahan pertanian. Sawah tidak bisa menanam dirinya sendiri. Benih tidak akan tumbuh menjadi hamparan padi tanpa ada tangan yang mengolah dan merawatnya.

Persoalan ini harus menjadi perhatian bersama. Pemerintah, lembaga pertanian, kelompok tani, hingga masyarakat desa perlu mulai memikirkan langkah konkret.

Jangan sampai kita baru menyadari pentingnya regenerasi petani ketika sawah-sawah mulai kehilangan penggarapnya. Jangan sampai kita sibuk membicarakan swasembada pangan, tetapi lupa memikirkan siapa yang akan menanam dan menghasilkan pangan tersebut.

Sebab, pada akhirnya, ketahanan pangan bukan hanya tentang berapa banyak beras yang bisa diproduksi, melainkan juga tentang siapa yang bersedia bekerja keras di balik setiap butir beras yang tersaji di meja makan kita.

Jika hari ini semakin sulit menemukan orang yang mau menanam padi, maka sesungguhnya kita sedang menghadapi persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar kekurangan tenaga kerja. Kita sedang menghadapi ancaman hilangnya generasi penerus pertanian.

Dan pertanyaan yang patut kita renungkan bersama adalah: Jika suatu hari nanti tidak ada lagi generasi muda yang mau bertani, lalu siapa yang akan memastikan sawah-sawah kita tetap menghasilkan beras? (*)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.

Komentar (0)

You cannot copy content of this page

Back to top