Benda Diduga Ulat Ditemukan di Menu MBG, Pengelola Dapur Berdalih “Tumpi Kacang Hijau”

Oleh Global Jatim • 14 Okt 2026, 19:17 WIB • 137 Views

GLOBALJATIM
BOJONEGORO – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi jaring pengaman nutrisi bagi ibu menyusui (busui) dan balita justru berpotensi mengancam kesehatan. Warga Desa Kedungprimpen, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro, digegerkan dengan temuan benda diduga ulat pada menu bubur kacang hijau yang dibagikan pada Selasa (13/10/2026). Temuan menjijikkan ini sontak membuat sejumlah penerima manfaat langsung muntah-muntah.

Berdasarkan bukti dokumentasi pada gambar, tampak jelas beberapa benda putih memanjang dan melengkung yang secara visual sangat identik dengan ulat atau larva, mengambang di antara bulir-bulir kacang hijau.

Menu bermasalah tersebut diketahui berasal dari pasokan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Temu, Kecamatan Kanor.

Kepala Desa Kedungprimpen, Akrab disapa Totok,  saat dikonfirmasi secara tegas membenarkan terjadinya insiden tersebut. Bahkan, Kades mengungkapkan bahwa petugas SPPG yang langsung turun ke lokasi kejadian pada saat itu juga dan telah melihat benda asing di dalam bubur tersebut yang diduga ulat.

Namun, sikap bertolak belakang dan terkesan defensif justru ditunjukkan oleh pihak pengelola dapur selaku mitra SPPG. Saat dikonfirmasi pada Rabu (14/10/2026), Adif, pengelola membantah keras bahwa benda tersebut adalah larva serangga.

“Saya konfirmasi ke Kepala SPPG dulu, Pak. Sering terjadi di menu kacang hijau, benda putih dikira ulat, tetapi itu tumpi (kecambah/akar lembaga) kacang hijau yang sudah tua,” kilah pihak pengelola dapur (Adif).

Lebih lanjut, pihak pengelola mengklaim bahwa konfirmasi dari Kepala SPPG telah disaksikan langsung oleh Babinsa, yang menyimpulkan bahwa benda tersebut bukan ulat.

Pernyataan dengan dalih tumpi kacang hijau ini memunculkan kejanggalan kritis. Terdapat perbedaan mencolok antara pendapat awal petugas SPPG dan penerima di lapangan yang menduga adanya ulat dengan bantahan susulan dari tingkat pimpinan dan pengelola dapur.

Insiden ini mengindikasikan adanya kelalaian fatal dalam standar pengawasan mutu (Quality Control) kebersihan bahan pangan program MBG di Bojonegoro. Mengingat target distribusinya adalah kelompok sangat rentan (balita dan busui), polemik ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan bantahan sepihak.

Dinas Kesehatan dan aparat terkait diharapkan segera melakukan inspeksi mendadak, mengaudit kelayakan operasional dapur SPPG Desa Temu, dan melakukan uji laboratorium terhadap sampel makanan sebelum program ini justru mencetak masalah kesehatan baru di masyarakat. (MJ).

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.

Komentar (0)

You cannot copy content of this page

Back to top