Proyek Belum Usai, Jalan Rigid Beton BKKD Caruban-Kanor Mulai Retak
GLOBALJATIM
BOJONEGORO – Proyek jalan rigid beton program Bantuan Keuangan Khusus Desa (BKKD) tahun anggaran 2025 di Desa Caruban, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro, memantik tanda tanya besar. Pekerjaan yang belum selesai itu justru telah menunjukkan gejala kegagalan dini: badan jalan beton terlihat retak memanjang.
Pantauan pewarta di lokasi pada Selasa, 13 Januari 2026, menunjukkan retakan jelas membelah permukaan beton. Retakan tersebut tampak mengikuti garis konstruksi dan memanjang di beberapa titik, menandakan adanya persoalan serius pada kualitas pekerjaan, meski usia jalan terbilang sangat muda.
Warga setempat menyebut kondisi itu mencederai harapan mereka. “Ini belum lama dicor, belum selesai juga, tapi sudah retak. Kalau begini, kami patut curiga kualitasnya,” ujar seorang warga.
Ia mengaku khawatir jalan tersebut tidak akan bertahan lama saat mulai dilewati kendaraan bermuatan berat.
Keresahan serupa disampaikan warga lain. Menurutnya, proyek ini seharusnya menjadi akses utama penopang aktivitas ekonomi desa. “Kalau sejak awal sudah rusak, kami yang dirugikan. Uangnya besar, tapi hasilnya begini,” katanya.
Dalam konstruksi jalan rigid beton, retakan dini lazim dikaitkan dengan mutu material, ketebalan beton, metode pengecoran, hingga lemahnya pengawasan teknis. Namun hingga kini, belum ada penjelasan resmi dari pihak pelaksana maupun pemerintah desa terkait penyebab retakan tersebut.
Pengamat hukum kebijakan publik menilai kondisi ini tak bisa dianggap sekadar cacat ringan.
“Jika proyek belum selesai 100% tapi sudah menunjukkan kerusakan, itu indikasi kuat ada masalah pada perencanaan atau pelaksanaan,” ujarnya. Ia menekankan bahwa pembiaran berpotensi menyeret kerugian keuangan negara.
Menurutnya, pengawasan proyek BKKD tidak boleh berhenti pada laporan administrasi. “Fisik pekerjaan harus diuji. Kalau tidak sesuai spesifikasi, seharusnya diperbaiki total, bukan ditambal,” katanya.
Hingga berita ini ditulis, belum terlihat langkah korektif di lapangan. Publik kini menunggu, apakah retakan tersebut akan menjadi pintu masuk evaluasi serius, atau justru kembali ditutup dengan sikap saling lempar tanggung jawab. (Red).


Komentar (0)