Ayam MBG Dipersoalkan di SD Plaosan, Babat: Satu Porsi, Banyak Pertanyaan tentang Pengawasan

Oleh Globaljatim • 27 Agu 2026, 01:07 WIB • 150 Views

GLOBALJATIM

LAMONGAN — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali berhadapan dengan pertanyaan soal kualitas makanan yang diterima siswa. Kali ini, keluhan datang dari sejumlah wali murid SD Plaosan, Kecamatan Babat, setelah menu ayam goreng tepung yang dibagikan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) 1 Babat pada Rabu (26/8/2026) disebut masih mengeluarkan darah saat dibelah.

​Persoalan tersebut bermula dari seorang siswa kelas 2 SD Plaosan yang menolak menyantap makanan yang diterimanya di sekolah. Porsi tersebut kemudian dibawa pulang dan diperlihatkan kepada orang tuanya.

​”Anak saya sama sekali tidak mau makan karena melihat ada darah segar di daging ayamnya. Padahal, ayam kentucky itu makanan kesukaannya,” ujar wali murid tersebut saat dikonfirmasi.

​Menurut keterangan wali murid itu, keluhan serupa tidak hanya terjadi pada anaknya. Sejumlah orang tua penerima makanan di Pos 4 Desa Plaosan juga memperbincangkan kondisi menu tersebut melalui grup WhatsApp.

​”Ternyata bukan dialami anak saya saja. Di percakapan grup WhatsApp Pos 4 Desa Plaosan juga banyak orang tua yang mengeluhkan hal yang sama,” katanya.

​Keluhan tersebut kemudian dikonfirmasi kepada pihak SD Plaosan. Perwakilan sekolah, Syakoni, mengatakan bahwa hingga saat ini pihak sekolah belum menerima laporan resmi dari wali murid mengenai kondisi makanan yang dimaksud.

​”Saya belum menerima laporan resmi terkait hal itu. Namun, jika informasi tersebut benar terjadi, tentu sangat disayangkan,” ujar Syakoni.

​Di sisi lain, pengelola SPPG 1 Babat telah dimintai penjelasan mengenai keluhan tersebut, termasuk kondisi menu ayam yang dibagikan kepada siswa. Namun, hingga berita ini diterbitkan, Ka SPPG Tiara dan Aslap Yusuf yang dihubungi melalui pesan WhatsApp belum memberikan tanggapan.

​Persoalan ini tidak berhenti pada satu porsi makanan. Ketika program yang menyasar kebutuhan gizi anak-anak menghadapi keluhan mengenai kualitas menu, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana mekanisme pemeriksaan makanan sebelum didistribusikan dan bagaimana setiap keluhan ditindaklanjuti.

​Terlebih lagi, MBG merupakan program nasional yang pelaksanaannya bersentuhan langsung dengan anak-anak sebagai penerima manfaat. Oleh karena itu, setiap keluhan mengenai kualitas makanan perlu ditempatkan sebagai informasi yang harus diklarifikasi dan dievaluasi, bukan sekadar berhenti sebagai perbincangan di lingkungan wali murid.

​Dalam perkara SD Plaosan ini, kondisi ayam yang disebut masih mengeluarkan darah merupakan keterangan berdasarkan keluhan wali murid dan belum dapat disimpulkan sebagai makanan yang tidak matang sebelum dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

​Hingga berita ini diterbitkan, belum ada penjelasan resmi dari pengelola SPPG 1 Babat mengenai keluhan tersebut. Dengan demikian, penyebab kondisi makanan dan langkah penanganannya masih menunggu klarifikasi dari pihak yang bertanggung jawab atas penyediaan menu. (JN)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.

Komentar (0)

You cannot copy content of this page

Back to top