Pers dan Kebangkitan Nasional 2026: Menjaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara
Oleh : Redaksi
GLOBALJATIM
Peringatan Hari Kebangkitan Nasional 2026 semestinya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan yang dipenuhi spanduk dan pidato formal. Tema “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara” mengandung pesan yang jauh lebih mendesak: negara sedang diuji oleh kemampuannya melindungi generasi muda dari ancaman yang tidak lagi datang dalam bentuk penjajahan fisik, melainkan melalui kerusakan moral, manipulasi informasi, ketimpangan pendidikan, hingga ketergantungan digital.
Kedaulatan negara hari ini tidak cukup diukur dari kekuatan militer atau kekayaan sumber daya alam. Ukurannya bergeser pada kualitas manusia mudanya. Bangsa yang gagal menjaga anak-anaknya dari kebodohan, intoleransi, narkoba, judi daring, dan banjir propaganda media sosial, sesungguhnya sedang kehilangan masa depan sedikit demi sedikit.
Ironisnya, di tengah bonus demografi yang sering dibanggakan, negara justru terlihat belum sepenuhnya hadir. Pendidikan masih timpang. Akses literasi digital rendah. Anak muda dijejali budaya instan yang memuja popularitas tanpa kerja keras. Media sosial menjadi arena pembentukan opini tanpa filter, tempat hoaks dan ujaran kebencian berkembang lebih cepat dibanding pengetahuan.
Dalam situasi seperti ini, menjaga tunas bangsa bukan lagi tugas simbolik keluarga atau sekolah semata. Ia menjadi tanggung jawab nasional. Negara mesti memastikan pendidikan tidak sekadar mencetak lulusan, tetapi membentuk karakter. Pers dan media harus kembali menjadi ruang penjernih informasi, bukan sekadar pemburu klik dan sensasi. Sementara masyarakat perlu menyadari bahwa membiarkan generasi muda tumbuh tanpa arah sama artinya menyerahkan kedaulatan bangsa kepada pengaruh asing dan kepentingan pasar.
Pers memiliki peran penting dalam momentum Kebangkitan Nasional. Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa kebangkitan kesadaran bangsa lahir dari keberanian kaum terdidik dan media dalam melawan kebodohan. Hari ini tantangannya berbeda, tetapi substansinya sama: melawan pembusukan nalar publik.
Karena itu, tema Hari Kebangkitan Nasional 2026 harus dimaknai sebagai alarm bersama. Bangsa ini tidak kekurangan anak muda cerdas. Yang kurang adalah sistem yang mampu menjaga, mengarahkan, dan memberi teladan. Ketika generasi muda kehilangan kepercayaan pada kejujuran, kerja keras, dan nilai kebangsaan, maka yang runtuh bukan hanya moral sosial, melainkan fondasi negara itu sendiri.
Menjaga tunas bangsa berarti menjaga Indonesia tetap berdiri di masa depan. Sebab kedaulatan negara pada akhirnya bukan hanya soal batas wilayah, tetapi tentang siapa yang menguasai pikiran dan karakter generasi penerusnya. (*)


Komentar (0)