Erna Sujarwati: Kelalaian Medis Mengancam Nyawa, Jangan Anggap Sepele
GLOBALJATIM
LAMONGAN – Kasus dugaan kelalaian medis kembali mencuat di Kabupaten Lamongan. Seorang anak perempuan berusia empat tahun, Inda Kusuma Wardhani, warga Kecamatan Kedungpring, meninggal dunia setelah menjalani operasi usus buntu di RSU Muhammadiyah Babat, Lamongan.
Inda diketahui menjalani operasi pada 7 April 2025 yang ditangani oleh dokter spesialis bedah umum, dr. Rizky. Enam hari usai tindakan medis tersebut, Inda dipulangkan meski jahitan operasi dinilai belum pulih sempurna. Menurut kesaksian orang tuanya, luka operasi mengeluarkan cairan berbau menyengat dan kondisi anak semakin menurun.
“Bau menyengat dari bekas jahitan, cairan keluar, dan kesadaran menurun,” ujar Erna Sujarwati, anggota Komisi D DPRD Lamongan dari Fraksi PDI Perjuangan, mengutip pernyataan keluarga korban, Rabu (7/5/2025).
Kondisi Inda yang terus memburuk membuat pihak keluarga kembali membawanya ke rumah sakit. Pada 18 April, ia dirawat di RSUD dr. Soegiri Lamongan dan langsung dimasukkan ke ruang ICU.
Pihak keluarga, bersama dukungan dari Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, dan Bupati Lamongan, kemudian mengupayakan rujukan ke RSUD dr. Soetomo Surabaya. Rujukan dilakukan pada 21 April dalam kondisi kritis. Inda sempat menjalani dua kali operasi laparatomi, namun nyawanya tak tertolong. Ia mengembuskan napas terakhir pada Sabtu, 3 Mei 2025.
Kasus ini mendapat sorotan tajam dari DPRD Lamongan. Erna Sujarwati menyatakan bahwa kasus Inda bukan yang pertama. Ia mengungkapkan bahwa terdapat laporan serupa dari pasien lain yang ditangani oleh dr. Rizky, termasuk satu kasus kematian.
“Ini bukan kejadian pertama. Beberapa pasien mengalami infeksi berat usai tindakan bedah oleh dokter ini. Satu di antaranya telah meninggal dunia,” ujarnya.
Erna mendesak manajemen RSU Muhammadiyah Babat dan RSUD dr. Soegiri Lamongan untuk mengevaluasi kinerja para dokter spesialis, terutama yang memiliki rekam jejak bermasalah dalam penanganan pasien. Ia menilai dugaan kelalaian medis bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan berpotensi menjadi ancaman serius terhadap keselamatan pasien dan reputasi layanan kesehatan di Lamongan.
“Kalau ini terus dibiarkan, yang dirugikan bukan cuma pasien, tapi juga citra rumah sakit dan nama baik Lamongan,” katanya.
Sementara itu, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Lamongan, dr. Budi Himawan, meminta semua pihak berhati-hati dalam menyimpulkan adanya dugaan kelalaian atau malpraktik. Ia menegaskan bahwa IDI Lamongan hingga saat ini belum menerima laporan resmi terkait dokter yang bersangkutan.
“Perlu dibedakan antara komplikasi medis dan kelalaian. Jangan langsung menuding tanpa dasar yang kuat,” tegas dr. Budi.
Hingga berita ini diturunkan, pihak RSU Muhammadiyah Babat maupun RSUD dr. Soegiri Lamongan belum memberikan keterangan resmi terkait kasus tersebut. (Jn)

Komentar (0)